Dana Asing Belum Masuk Pasar RI, IPO SpaceX dan Piala Dunia Curi Minat Investor

Katadata/Fauza Syahputra
Layar digital yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (8/6/2026).
Penulis: Karunia Putri
12/6/2026, 19.26 WIB

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bangkit dari keterpurukannya. Jika mengacu pada titik terendah IHSG tahun ini di level 5.342, indeks sudah rebound 12,45% ke level 6.007 pada penutupan perdagangan Jumat (12/6). 

Kendati demikian, investor asing masih mencatatkan transaksi jual (net sell) hingga perdagangan sebelumnya, Kamis (11/6) senilai Rp 252,64 miliar. Sejak awal tahun net sell investor asing mencapai Rp 67,63 triliun. Dengan situasi ini pemulihan pasar sejauh ini lebih ditopang oleh investor domestik.  

Di tengah rebound pasar, ada agenda besar di lingkup global dan domestik. Mulai dari aksi penawaran umum perdana saham (IPO) SpaceX yang berpotensi menyerap likuiditas global, euforia taruhan sepak bola Piala Dunia 2026 hingga munculnya gelombang demonstrasi mahasiswa.

Namun, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menilai ketiga faktor tersebut bukanlah penyebab utama investor asing masih enggan kembali ke Indonesia.

"Ketiganya lebih tepat dipandang sebagai additional reasons to wait. Sementara akar persoalan tetap berada pada tingginya risk premium Indonesia akibat pelemahan Rupiah, ketidakpastian kebijakan, serta kekhawatiran fiskal dan governance," kata Liza dalam risetnya, Jumat (12/6).

Menurut dia, akar persoalan tetap berada pada tingginya premi risiko (risk premium) Indonesia yang dipicu oleh pelemahan rupiah, ketidakpastian kebijakan serta kekhawatiran terhadap kondisi fiskal dan tata kelola (governance).

Liza menilai sejumlah faktor yang sempat memicu kepanikan pasar kini mulai menunjukkan perbaikan. Nilai tukar rupiah mulai stabil setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan secara kumulatif 75 basis poin menjadi 5,50%. Selain itu, tensi geopolitik global mulai mereda dan koordinasi pemerintah, regulator serta pelaku pasar dinilai semakin baik dalam menjaga stabilitas pasar keuangan.

Di sisi lain, valuasi pasar saham Indonesia juga kembali berada pada level yang menarik secara historis. Setelah sempat terkoreksi ke level terendah sejak pandemi, valuasi IHSG kini berada di kisaran price to earnings ratio (PER) 13 hingga 14 kali.

"Pasar saat ini mulai menawarkan diskon terhadap ketidakpastian yang ada," ujar Liza.

Secara jangka panjang, Indonesia juga masih dinilai memiliki daya tarik kuat. Dengan populasi hampir 300 juta jiwa, kekayaan sumber daya alam strategis dan pasar domestik terbesar di Asia Tenggara, Indonesia tetap masuk daalam kelompok negara tujuan investasi utama di kawasan ASEAN.

Dana Asing Tak Selalu Jadi Penentu Titik Balik Pasar

Kiwoom mencatat arus keluar dana asing tidak selalu menjadi indikator bahwa pasar belum mencapai titik terendah. Menurut analisa Liza, dalam empat krisis besar terakhir yaitu pada 2008, 2013, 2015 dan 2020, IHSG justru sudah lebih dulu menguat 15% hingga 56% sebelum investor asing kembali mencatatkan aksi beli bersih (net buy).

Bahkan saat pandemi Covid-19, investor asing masih membukukan net sell sekitar Rp27 triliun selama tahun pertama pemulihan pasar.

Artinya, absennya dana asing bukan berarti peluang pemulihan pasar telah tertutup. Sebaliknya, pasar bisa saja sedang berada pada fase awal pembentukan tren kenaikan meski jalannya masih akan bergejolak.

IPO SpaceX hingga Semarak Piala Dunia Jadi Pesaing Likuiditas Global

Lebih lanjut, Liza menjelaskan kini perhatian investor saat ini tertuju pada rencana IPO SpaceX yang disebut-sebut menjadi salah satu penawaran saham terbesar dalam sejarah. Perusahaan milik Elon Musk itu dikabarkan memiliki valuasi sekitar US$1,77 triliun dan berpotensi menghimpun dana hingga US$75 miliar.

Setelah SpaceX, pasar juga menantikan potensi IPO sejumlah perusahaan kecerdasan buatan (AI) seperti OpenAI dan Anthropic yang diperkirakan memiliki valuasi mendekati US$1 triliun. Fenomena ini menciptakan alternatif investasi baru bagi manajer investasi global. Akibatnya, sebagian likuiditas yang biasanya mengalir ke negara berkembang berpotensi tetap bertahan di pasar Amerika Serikat.

Selain itu, tren tersebut menunjukkan bahwa tema investasi berbasis AI masih menjadi magnet utama pasar global. Sementara itu, narasi investasi Indonesia masih didominasi sektor perbankan, komoditas, konsumsi domestik, dan hilirisasi sumber daya alam.

Kiwoom juga menyoroti potensi kebocoran likuiditas akibat meningkatnya aktivitas taruhan legal selama Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Utara. Nilai taruhan legal global selama turnamen tersebut diperkirakan mencapai US$60 miliar atau meningkat sekitar 71% dibandingkan Piala Dunia 2022 di Qatar.

Dengan transaksi judi online di Indonesia yang diperkirakan mencapai Rp286,8 triliun pada 2025, dana yang berputar ke taruhan sepak bola selama Piala Dunia diperkirakan bisa mencapai Rp30 triliun hingga Rp60 triliun.

Menurut Liza, risiko utamanya bukan terhadap pasar saham secara langsung, melainkan berkurangnya likuiditas yang seharusnya dapat mengalir ke konsumsi maupun investasi produktif.

Sementara itu, rencana demonstrasi mahasiswa di sejumlah kota hari ini Jumat (12/6) juga dinilai belum berdampak signifikan terhadap fundamental ekonomi. Namun, di tengah kepercayaan investor yang masih rapuh, isu stabilitas sosial dan politik dapat memperkuat sikap wait and see investor asing terhadap Indonesia.

Menanti Katalis Baru 

Di tengah dinamika yang berkembang, pasar kini menantikan dua agenda penting yang berpotensi menjadi katalis masuknya kembali dana asing, yakni MSCI Market Accessibility Review pada 19 Juni dan FTSE Russell Rebalancing pada 22 Juni.

Apabila Indonesia memperoleh penilaian yang lebih positif terkait aksesibilitas pasar, tata kelola, dan iklim investasi, maka arus dana asing berpotensi kembali masuk secara lebih terukur.

"Seperti yang sering terjadi di pasar, bukan tidak mungkin sebagian smart money telah mulai melakukan positioning lebih awal sebelum keputusan tersebut diumumkan ke publik," kata Liza.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri