Luhut Klaim Family Office Bali Potensi Bawa Dana Masuk hingga Rp 8.950 Triliun
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan mengklaim akan ada potensi dana masuk hingga US$ 500 miliar atau sekitar Rp 8.950 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.900 per dolar AS yang akan datang ke family office Bali. Family office adalah entitas yang dibentuk khusus untuk mengelola kekayaan individu atau keluarga super kaya (ultra-high-net-worth).
Luhut mengatakan meningkatnya ketidakpastian global banyak mendorong individu dan keluarga dengan kekayaan besar mencari lokasi aman untuk menempatkan asetnya. Selain itu, ia pun menyebut pemerintah tengah menyiapkan platform serta kerangka hukum untuk mendukung operasional family office di Indonesia.
Ia menyebut pada 18 Juli 2026 akan ada forum yang mempertemukan sejumlah pemilik modal global, yang juga akan dihadiri oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara Indonesia.
“Dan per tadi malam yang saya dengar kira-kira ada potensi US$ 500 miliar dolar yang mau datang kesana,” ujar Luhut ketika ditemui di Jakarta, Minggu (14/6).
Lebih jauh ia menjelaskan dana yang dikelola melalui family office tidak memiliki keterkaitan dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Menurut Luhut, Indonesia sebenarnya memiliki peluang lebih awal untuk mengembangkan family office. Ia menilai minat investor dari kawasan Timur Tengah, termasuk Dubai dan Abu Dhabi.
“Jadi sebenarnya kita terlambat ini. Kalau saya usul dulu bulan tahun lalu awal, hari ini mungkin sudah banyak duit. Karena apa? Orang dari Timur Tengah, di Dubai, Abu Dhabi, segala macam,” katanya.
Luhut mengatakan adanya family office berpotensi memperkuat pasar saham dan meningkatkan peringkat Indonesia. Menurutnya, dukungan regulasi dan tata kelola yang kredibel akan mendorong kepercayaan investor lebih baik lagi terhadap Indonesia.
“Saya confidence and trust, asal kita sepakat semua kompak, jangan gotok-gotokan,” kata Luhut.
Sebelumnya Presiden Prabowo Subianto menyampaikan rencana pembangunan kawasan 'special financial center' di Bali. Prabowo menyampaikan pendirian kawasan keuangan khusus itu merupakan gagasan yang telah lama ia rancang bersama Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Pandjaitan. Bali disebut menjadi salah satu lokasi potensial untuk pengembangan pusat keuangan khusus tersebut.
Prabowo berpendapat Bali memiliki daya tarik global, tercermin dari tingginya kunjungan warga negara asing, termasuk dari Rusia dan Ukraina.
"Kalau terjadi perang dunia ketiga, negara mana yang aman? Indonesia termasuk papan atas, loh. Sekarang kau ke Bali, kau lihat tuh berapa orang Rusia dan Ukraina di sana. Rencana kita mau bikin special financial center," kata Prabowo saat menyampaikan taklimat dalam Rapat Kerja Pemerintah di Istana Merdeka Jakarta pada Rabu (8/4).
Ketua Umum Partai Gerindra itu mengatakan bahwa Indonesia menjadi salah satu negara yang relatif stabil dan diminati oleh para investor, termasuk para pemodal dari kawasan Timur Tengah.
"Gagasan ini yang dibicarakan Pak Luhut ke saya bertahun-tahun ini, ternyata sekarang uang-uang yang di Timur Tengah dia mau kemana? Negara mana yang tidak perang sekarang, Indonesia salah satu yang paling diminati," ujarnya.
Dewan Ekonomi Nasional (DEN) sebelumnya diberitakan tengah menggodok pembentukan family office. Family office atau Wealth Management Consulting (WMC) merupakan firma penasihat manajemen kekayaan yang melayani individu atau keluarga yang memiliki aset kekayaan sangat tinggi. Hal ini memungkinkan orang-orang kaya atau investor kakap global menanamkan uangnya di Indonesia tanpa terkena pajak.
DEN berencana untuk mengembangkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pusat Keuangan dan Family Office di Bali untuk menarik investasi asing masuk ke dalam negeri. Fasilitas ini akan dijadikan gerbang bagi dana investasi luar negeri yang akan diinvestasikan ke berbagai sektor riil.