Wall Street Ditopang Rotasi Sektor, Investor Tunggu Keputusan Suku Bunga The Fed
Bursa Wall Street Amerika Serikat (AS) mayoritas menguat pada perdagangan Selasa (28/7) didorong laporan keuangan emiten yang melampaui ekspektasi, turunnya harga minyak, dan rotasi investasi dari saham semikonduktor ke sektor-sektor lain.
Dow Jones Industrial Average melonjak 537,24 poin atau 1,03% ke level 52.747,32. Kenaikan ini memperpanjang reli Dow menjadi tiga hari berturut-turut. Saham Sherwin-Williams memimpin kenaikan Dow usai melonjak 8% berkat kinerja kuartal II yang melampaui ekspektasi. Sementara itu, saham Coca-Cola naik 5% setelah membukukan pendapatan dan laba di atas perkiraan dan menaikkan proyeksi kinerja sepanjang tahun.
Adapun S&P 500 naik 0,21% ke level 7.428,78 dan Nasdaq Composite turun tipis 0,22% menjadi 24.876,91, tertekan saham-saham semikonduktor.
ETF VanEck Semiconductor (SMH) turun lebih dari 3% dan mencatat pelemahan selama empat hari berturut-turut. Saham Micron dan AMD bahkan masing-masing anjlok lebih dari 8%.
Seiring dengan itu melemahnya harga minyak juga menopang sentimen pasar setelah Iran membahas Selat Hormuz dengan Arab Saudi dan Oman. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun sekitar 4% menjadi US$ 79,26 per barel. Sedangkan Brent merosot 4,8% menjadi US$8 4,09 per barel.
Pergerakan ini menunjukkan investor terus merotasi portofolionya dari saham teknologi yang sebelumnya melesat ke sektor-sektor ekonomi lama. Hal itu terlihat dari Technology Select Sector SPDR Fund (XLK) yang turun ke level terendah sejak 7 Mei.
Sebaliknya, Health Care Select Sector SPDR Fund (XLV) dan Financial Select Sector SPDR Fund (XLF) mencetak rekor tertinggi, didorong oleh penguatan saham-saham sektor asuransi.
Ahli strategi investasi di Baird, Ross Mayfield, menilai kenaikan sektor-sektor di luar teknologi karena rotasi pasar yang semakin luas. Menurutnya, pelemahan momentum saham teknologi telah berlangsung selama enam hingga delapan pekan terakhir dan lebih dipengaruhi faktor teknikal pasar dibandingkan fundamentalnya.
Mayfield menilai rotasi ke sektor-sektor yang lebih siklikal dan sensitif terhadap suku bunga, seperti barang konsumsi diskresioner, belum tentu berlanjut. Ia memproyeksikan pergerakan tersebut masih bergantung pada harga minyak dan suku bunga yang tetap bertahan di kisaran level saat ini.
“Sulit untuk sepenuhnya meyakinkan bahwa sektor barang konsumsi, keuangan, atau industri akan terus diminati jika suku bunga naik dan harga minyak mendekati US$ 100 per barel,” kata Mayfield, dikutip CNBC International, Rabu (29/7).
Investor kini menantikan hasil rapat kebijakan moneter Federal Reserve yang akan diumumkan pada Rabu (29/7) waktu setempat. Mayoritas pelaku pasar memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga acuannya seiring mencermati petunjuk mengenai arah kebijakan moneter selanjutnya.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar kontrak berjangka Fed funds terakhir memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September.
Selain itu, musim laporan keuangan emiten teknologi juga menjadi perhatian investor. Pasar menunggu kinerja Amazon, Apple, Meta Platforms, dan Microsoft, yang dinilai dapat memengaruhi arah pergerakan Wall Street dalam beberapa hari ke depan.