Rupiah Ditutup Menguat Tipis, Pasar Cermati Timur Tengah dan Arah Kebijakan Fed

ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/nz
Karyawan menghitung uang pecahan rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (27/7/2026).
29/7/2026, 16.06 WIB

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat tipis pada perdagangan Rabu (29/7) sore. Pelaku pasar mencermati situasi perang di Timur Tengah dan menunggu arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat atau The Fed sehingga pergerakan rupiah masih fluktuatif.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, rupiah pada perdagangan sore ini ditutup menguat tipis sebesar 10 poin setelah sebelumnya sempat melemah hingga 25 poin. Rupiah ditutup di level Rp 17.073 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di kisaran Rp 17.083 per dolar AS.

"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp 17.070 hingga Rp 17.130 per dolar AS," ujar Ibrahim, Rabu (29/7).

Menurut Ibrahim, sentimen eksternal masih didominasi oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah setelah Iran meluncurkan sejumlah rudal balistik yang menyasar pasukan Amerika Serikat di kawasan tersebut.

Meski Komando Pusat AS menyatakan seluruh rudal berhasil dicegat, serangan tersebut menjadi eskalasi baru setelah beberapa hari situasi relatif kondusif dan kembali memunculkan kekhawatiran akan memburuknya konflik.

Di sisi lain, optimisme pasar terhadap jalur diplomasi sempat menguat setelah pertemuan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dengan Presiden AS Donald Trump di Washington.

Trump menyampaikan adanya peluang besar bagi kemajuan pembicaraan dengan Iran. Namun, harapan tersebut kembali memudar setelah Teheran membantah memiliki niat untuk melakukan negosiasi maupun gencatan senjata.

Situasi juga diperburuk oleh kebuntuan upaya pembukaan kembali Selat Hormuz. Iran menolak usulan Oman terkait pembentukan kerangka kerja bersama untuk mengatur lalu lintas pelayaran di jalur strategis tersebut.

Selain itu, ancaman terhadap infrastruktur energi kawasan masih tinggi setelah Arab Saudi melaporkan berhasil mencegat serangan drone dan rudal yang menargetkan fasilitas minyak di Provinsi Timur.

Ibrahim menambahkan, pelaku pasar juga memilih bersikap hati-hati menjelang pengumuman hasil rapat kebijakan FOMC yang dijadwalkan Kamis dini hari pukul 01.00 WIB. Keputusan tersebut dinilai akan memberikan arah baru terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve ke depan.

"Menjelang peristiwa penting terkait kebijakan bank sentral, para pedagang mengurangi taruhan kenaikan suku bunga Fed di tengah harapan baru akan diplomasi AS-Iran untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama lima bulan, yang menyebabkan penurunan harga minyak dan meredakan kekhawatiran inflasi," ujarnya.

Pasar Respons Negatif Penurunan Tingkat Kepuasan Publik terhadap Presiden Prabowo

Dari dalam negeri, Ibrahim menilai pasar turut merespons negatif penurunan tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto.

Survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada 5-19 Juli menunjukkan tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto mencapai 51,1%. Angka ini menunjukkan penurunan 30,1% dalam sembilan bulan terakhir.

Publik yang merasa tidak puas atau sangat tidak puas terhadap kinerja Presiden Prabowo meningkat dari 16% pada survei November 2025 menjadi 46,5% pada survei Juli 2026. SMRC menyebut penurunan kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo terjadi bersamaan dengan memburuknya penilaian masyarakat terhadap kondisi ekonomi, politik, dan penegakan hukum.

Pengunduran Diri Perry Warjiyo Disorot

Selain itu, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada kondisi Bank Indonesia pascapengunduran diri Perry Warjiyo sebagai Gubernur BI. Meski demikian, Bank Indonesia tetap menegaskan komitmennya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sebagai prasyarat utama dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Bank Indonesia juga terus memperkuat bauran kebijakan moneter melalui optimalisasi berbagai instrumen stabilisasi nilai tukar. Langkah tersebut tidak hanya mengandalkan suku bunga kebijakan, tetapi juga memperkuat instrumen lain seperti triple intervention di pasar valuta asing, baik melalui pasar spot, non-deliverable forward (NDF), maupun domestic non-deliverable forward (DNDF).

Selain itu, BI terus mengoptimalkan instrumen moneter seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang didukung fasilitas insentif swap dan DNDF hedging guna menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mendorong masuknya aliran modal asing ke pasar domestik.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah