Konflik AS-Iran dan Sinyal Hawkish The Fed Bebani Langkah Rupiah

ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nym.
Petugas menunjukkan pecahan mata uang Rupiah dan Dolar AS di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Kamis (20/8/2026).
2/9/2026, 16.32 WIB

Nilai tukar rupiah pada perdagangan Rabu (2/9) ditutup melemah 19 poin terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ke level Rp17.763. Sentimen negatif dari eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah dan sikap hawkish Bank Sentral AS (The Fed) menambah tekanan bagi rupiah.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan sentimen negatif terhadap rupiah salah satunya berasal dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah militer AS kembali melancarkan serangan terhadap Iran.

Komando Pusat AS menyatakan militer AS telah menyelesaikan gelombang serangan terbaru terhadap sejumlah target Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Serangan tersebut menyasar sejumlah fasilitas, termasuk situs pertahanan udara, sistem radar, aset dan fasilitas maritim, kemampuan penebaran ranjau serta situs komunikasi.

Presiden AS Donald Trump, pada Selasa (1/9), juga mengeluarkan pernyataan keras dengan mengatakan dirinya tidak berupaya memaksa Iran untuk kembali ke meja perundingan. Iran kemudian membalas serangkaian serangan AS pada hari yang sama.

Selain geopolitik, rupiah turut menghadapi tekanan dari perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter AS. Retorika hawkish Ketua Federal Reserve Kevin Warsh terkait inflasi dalam Simposium Jackson Hole kembali menghidupkan spekulasi bahwa The Fed dapat menaikkan suku bunga.

Probabilitas Kenaikan Suku Bunga The Fed Meningkat

Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed 15-16 September kini berada di sekitar 65%. Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan sekitar 40% pada sepekan sebelumnya.

Nada hawkish juga disampaikan Gubernur The Fed Michael Barr pada Selasa (1/9). Barr mengatakan inflasi yang terus berada di atas target menciptakan risiko bagi perekonomian.

Menurut Barr, suku bunga dapat dipertahankan pada level saat ini apabila terdapat keyakinan bahwa inflasi sedang melambat. Namun, jika inflasi tidak segera melandai, kenaikan suku bunga dapat kembali dipertimbangkan.

Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga datang dari perkembangan inflasi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi umum pada Agustus 2026 sebesar 0,21% secara bulanan, berbalik dari deflasi 0,14% pada Juli 2026.

Secara tahunan, inflasi Agustus 2026 mencapai 3,19%, meningkat dari 2,88% pada bulan sebelumnya. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi salah satu kelompok pengeluaran yang memberikan kontribusi terbesar terhadap kenaikan inflasi pada Agustus 2026.

Kenaikan harga pangan menjadi perhatian karena dapat menekan daya beli masyarakat apabila berlangsung secara berkelanjutan.

Meski demikian, tekanan terhadap perekonomian domestik sedikit terimbangi oleh kinerja perdagangan Indonesia. Ekspor pada Juli 2026 tercatat sebesar US$26,22 miliar atau Rp 465,84 triliun (kurs Rp17.770 per dolar AS) tumbuh 6,05% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Ekspor migas tercatat sebesar US$0,79 miliar (Rp14,04 triliun), turun 14,58% secara tahunan. Sementara itu, ekspor nonmigas tumbuh 6,84% menjadi US$25,45 miliar (Rp 452,16 triliun)

Di tengah tekanan eksternal tersebut, Gubernur Bank Indonesia yang baru ditunjuk, Destry Damayanti, memberikan proyeksi positif terhadap perekonomian dan rupiah pada 2027.

Destry memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2027 berada dalam kisaran 5,2%-6%. Sementara itu, nilai tukar rupiah diperkirakan berada pada kisaran Rp17.300-Rp17.800 per dolar AS.

Destry juga memperkirakan inflasi tetap berada dalam sasaran Bank Indonesia sebesar 2,5% plus-minus 1%, dengan kondisi Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) yang tetap sehat.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah