Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir merombak jajaran direksi PT Pos Indonesia (Persero). Keputusan diambil dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), Rabu (23/9), menempatkan Faizal Rochmad Djoemadi sebagai Direktur Utama menggantikan Gilarsi Wahju Setijono.
"Benar ada perubahan jajaran direksi," kata Gilarsi ketika dihubungi oleh Katadata.co.id, Kamis (24/9). Perombakan jajaran BUMN logistik ini berdasarkan Surat Keputusan Menteri BUMN Nomor: SK-301/MBU/09/2020.
Faizal Rochmad Djoemadi merupakan Direktur Digital Business PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk, dimana pada 19 Juni 2020 lalu posisinya digantikan oleh Fajrin Rasyid. Sebelumnya lagi, Faizal merupakan Direktur Utama Telekomunikasi Indonesia International alias Telin, anak perusahaan Telkom yang fokus pada pengembangan lini bisnis di luar negeri.
Berdasarkan situs pribadinya, Faizal merupakan lulusan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) jurusan Teknik Elektro lulusan 1991. Ia kemudian melanjutkan S2 di University of Saskatchewan Saskatoon, Canada, juga jurusan Teknik Elektro dan lulus pada 1998.
Ia berkarir cukup panjang di bidang telekomunikasi dan pembangunan jaringan. Pada 2015 ia menjadi EVP Wholesale Service Division Telkom Indonesia. Hingga setahun kemudian, Ia sempat ditugaskan sebagai Chairman di Telin beberapa negara seperti Hong Kong, Australia, dan Singapura.
Erick Thohir juga mengganti Direktur Hubungan Strategis dan Kelembagaan Noer Fajrieansyah dengan Nezar Patria. Nomenklatur jabatannya pun diganti menjadi Direktur Kelembagaan saja. Nezar yang lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) jurusan Filsafat ini merupakan Pemimpin Redaksi harian The Jakarta Post.
Berikut ini jajaran direksi Pos Indonesia yang baru:
- Direktur Utama: Faizal Rochmad Djoemadi
- Direktur SDM & Umum: Tonggo Marbun
- Direktur Keuangan: Endy Pattia Rahmadi Abdurrahman
- Direktur Kelembagaan: Nezar Patria
- Direktur Kurir & Logistik: Hariadi
- Direktur Jaringan & Layanan Keuangan: Charles Sitorus
Dewan Komisaris selaku wakil pemegang saham, berharap jajaran direksi Pos Indonesia yang baru ini dapat menuntaskan agenda besar perusahaan. "Oleh karenanya, mohon restu dan kerja sama seluruh pihak yang ingin tumbuh bersama Pos Indonesia menuju potensi bisnis yang maksimal dan berkelanjutan," seperti ditulis dalam rilis.
Ketua Umum Serikat Pekerja Pos Indonesia Kuat Bermartabat (SPPIKB) Akhmad Qomarudin juga menyambut baik perombakan direksi ini. Meski, ada beberapa ganjalan, salah satunya tidak satu orang pun pucuk pimpinan berasal dari karir internal Pos.
"Apakah tidak ada internal talent yang memiliki kualifikasi? Semoga dengan perombakan ini. Pos Indonesia dapat segera bangkit dari keterpurukannya," kata Akhmad kepada Katadata.co.id.
Kinerja Keuangan PT Pos
Sepanjang 2019 lalu, Pos Indonesia berhasil mengantongi pendapatan bersih senilai Rp 4,97 triliun atau tumbuh 1,95% dibandikan 2018 yang senilai Rp 4,87 triliun. Pendapatan itu ditopang oleh dua lini bisnis perusahaan yaitu jasa paket pos dan surat pos.
Pendapatan dari bisnis paket sepanjang tahun lalu senilai Rp 1,82 triliun yang artinya mampu tumbuh hingga 4,46% dibandingkan sebelumnya Rp 1,74 triliun. Sementara, bisnis surat menyumbang pendapatan Rp 1,08 triliun yang sayangnya turun hingga 13,52% dari 2018 sebesar Rp 1,25 triliun.
Sayangnya, beban pokok layanan Pos Indonesia 2019 tercatat senilai Rp 4,1 triliun atau naik 6% dibandingkan dengan 2018 senilai Rp 3,87 triliun. Beban lainnya yang juga naik adalah beban pemasaran yang naik hingga 44,39% menjadi Rp 101,54 miliar dari Rp 70,32 miliar.
Alhasil, laba bersih perusahaan milik negara ini pun tercatat senilai Rp 120,2 miliar sepanjang 2019. Catatan ini turun tipis 0,44% dibandingkan dengan laba bersih perusahaan sepanjang 2018 yang ada di angka Rp 120,74 miliar.
Kinerja PT Pos dalam lima tahun terakhir, bisa dilihat pada databoks berikut: