Indika Energy Ekspansi ke Bisnis Alat Kesehatan hingga Minyak Atsiri

ANTARA FOTO/Novrian Arbi/rwa.
Ilustrasi. Pelaku industri memasang alat kesehatan pada boneka peraga yang dipajang saat Pameran Produk Alat Kesehatan di Bandung, Jawa Barat. Indika Energy juga mulai merambah ke bisnis distributor alkes.
25/1/2023, 11.15 WIB

Emiten pertambangan PT Indika Energy Tbk (INDY) terus melakukan ekspansi bisnis di luar pertambangan. Perusahaan melalui entitas anaknya mulai masuk ke bisnis distribusi alat kesehatan hingga industri minyak atsiri. 

Baru-baru ini,  Grup Indika, melalui entitas usahanya yaitu PT Indika Medika Nusantara atau IMAN, mendirikan perusahaan patungan (joint venture) dengan anak usaha Bioneer Corporation, perusahaan manufaktur alat kesehatan dari Korea Selatan, Bioneer Indika Group (BIG).

Sekretaris Perusahaan Indika Energy Adi Pramono mengatakan perusahaan patungan tersebut bernama PT Bioneer Indika Diagnostik atau BID. Nantinya, BID akan menjalankan kegiatan usaha di bidang distribusi alat kesehatan. Adapun, Indika dan Bioneer masing-masing memiliki porsi 50% saham di BIG.

"Pendirian Bioneer Indika Diagnostik menjadi langkah Indika Energy untuk melakukan ekspansi dan diversifikasi usaha ke sektor kesehatan di Indonesia," kata Adi dalam keterangan resmi, Rabu (25/1).

Pendirian perusahaan patungan ini tidak memiliki dampak kejadian, informasi atau fakta material terhadap kegiatan operasional, hukum, atau kelangsungan usaha perseroan.

Selain bisnis alat kesehatan, INDY juga merambah ke bisnis minyak atsiri melalui anak usahanya, PT Indika Multi Properti (IMP). Perusahaan merogoh kocek senilai Rp 179,6 miliar untuk melakukan diversifikasi.

Dalam keterbukaan informasi disebutkan, IMP melakukan penyertaan saham dalam PT Natura Aromatik Nusantara (NAN) yang bergerak di bidang industri minyak atsiri. 

Penyertaan saham ini dilakukan dengan pengambilan saham-saham baru yang dikeluarkan NAN dan pembelian saham dari pemegang saham NAN saat ini.  Setelah penyertaan saham berlaku efektif, maka IMP akan memiliki sejumlah 46% saham di NAN.

Adi menjelaskan, penyertaan saham ini merupakan langkah strategis INDY sebagai grup untuk melakukan ekspansi usaha. "Penyertaan saham ini merupakan langkah strategis perseroan secara group untuk melakukan ekspansi usaha ke industri minyak atsiri di Indonesia," ujar Adi dalam keterbukaan informasi.

Sebagai informasi, Natura Aromatik Nusantara merupakan produsen aroma chemicals, minyak esensial, dan ekstrak alami untuk industri rasa dan wewangian. NAN didirikan pada 2014 dan telah memiliki basis pelanggan di Asia, Eropa, dan Amerika. NAN menawarkan portofolio produk untuk pelanggannya di industri rasa dan wewangian, makanan dan minuman, serta industri kosmetik.

Sampai dengan kuartal III-2022, INDY meraih pendapatan US$ 3,13 miliar atau sekitar Rp 48,3 triliun hingga akhir kuartal III 2022. Pendapatan perseroan melonjak 57,15% dari periode sama tahun sebelumnya US$ 1,99 miliar.

Indika Energy mencatat laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk US$ 338,39 juta atau setara Rp 5,22 triliun hingga September 2022. Perolehan itu berkebalikan dari periode sama tahun sebelumnya rugi US$ 5,95 juta.

Perseroan membukukan ekuitas US$ 1,23 miliar hingga September 2022 dari Desember 2021 sebesar US$ 883,71 juta. Sementara liabilitas tercatat US$ 2,44 miliar hingga kuartal III 2022 dari Desember 2021 sebesar US$ 2,80 miliar.

 

Reporter: Patricia Yashinta Desy Abigail, Zahwa Madjid