Emiten di sektor nikel dan mineral lainnya yang terintegrasi secara vertikal, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) melakukan pencatatan perdana saham (listing) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa (18/4).

Berdasarkan data perdagangan sampai dengan pukul 09.20 WIB, harga saham MBMA naik 13,21% ke level Rp 900 dari level harga penawaran umum, yakni Rp 795 per lembarnya.

Volume saham yang diperdagangkan tercatat 549,36 juta dengan nilai transaksi Rp 477,5 miliar. Sementara itu, frekuensi perdagangannya tercatat sebanyak 29.360 kali, dengan rentang harga penjualan berkisar Rp 805 per saham sampai Rp 915 per saham. Sementara kapitalisasi pasarnya yaitu Rp 96,66 miliar.

Perusahaan mematok harga penawaran umum perdana (IPO) dengan harga Rp 795 per saham. Total saham yang dilepas melalui IPO ini sebanyak 11,54 miliar saham baru yang dikeluarkan dari portepel perusahaan atau dari total saham. MBMA meraup sekitar Rp 9,2 triliun dengan nilai kapitalisasi pasar saham mencapai Rp 85,9 triliun. MBMA menjadi emiten ke-34 di BEI pada 2023.

Selama proses penawaran umum, minat investor di porsi penjatahan terpusat cukup tinggi hingga terjadi kelebihan permintaan atau oversubscribed sebanyak 19,9 kali. Besarnya minat investor terhadap saham MBMA ini membuat perusahaan menerbitkan tambahan sebanyak 549,99 juta saham baru.

“Kami bersyukur IPO MBMA dapat berjalan dengan lancar dan sukses mendapatkan dukungan dari berbagai investor institusi baik dari dalam maupun luar negeri. Aksi korporasi ini sangat penting untuk mewujudkan visi MBMA sebagai pemain global yang terintegrasi secara vertikal dalam rantai nilai mineral strategis dan bahan baku baterai kendaraan bermotor listrik,” kata Presiden Direktur MBMA Devin Ridwan dalam konferensi pers usai listing MBMA di BEI, Selasa (18/4).

MBMA berencana menggunakan dana hasil IPO antara lain untuk membiayai pembangunan dan pengembangan sejumlah proyek pemrosesan nikel. Misalnya seperti fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL) I tahap I dengan kapasitas 60.000 ton per tahun untuk menghasilkan material dalam rantai nilai bahan baku baterai kendaraan bermotor listrik.

Sebagian lainnya akan digunakan untuk memperkuat modal kerja anak usaha, diantaranya PT Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) yang merupakan perusahaan tambang nikel dengan salah satu sumber daya terbesar di dunia dalam hal kandungan nikel.

Saat ini SCM memiliki sumber daya lebih dari 1,1 miliar bijih dry metric tonne yang mengandung 13,8 juta ton nikel dengan kadar 1,22% Ni dan 1,0 juta ton kobalt pada kadar 0,08% Co. Kapasitas produksi tambang SCM diperkirakan akan mencapai 14,6 juta wet metric tonnes pada 2024. MBMA juga akan memakai dana IPO untuk melunasi pinjaman.

Reporter: Patricia Yashinta Desy Abigail