Danantara Sebut Restrukturisasi TLKM Sukses, Valuasi Saham Naik hingga Rp 115 T
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara menyebut saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) merespons positif terhadap aksi transformasi yang dilakukan Danantara.
Chief Executive Officer Danantara Rosan Roeslani mengatakan, harga saham TLKM telah naik 81% sejak enam bulan terakhir dengan valuasi saham yang meningkat hingga Rp 115 triliun. Padahal menurut dia, selama lima tahun ke belakang, valuasi harga sahamnya cenderung menurun.
Menurut Rosan, kenaikan harga saham TLKM serta emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) lainnya yang didorong untuk bertransformasi oleh Danantara seperti PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) dan PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) telah memberikan respons positif terhadap harga sahamnya.
“Contohnya yang kita lakukan ada di beberapa BUMN, tapi mungkin yang paling besar salah satunya di Garuda, di Telkom, di Krakatau Steel, responsnya sangat positif,” kata Rosan dalam diskusi bertajuk Peran Danantara Indonesia Mendorong Pertumbuhan Berkualitas di Jakarta, Rabu (14/1).
Rosan menjelaskan, Danantara sedang melakukan transformasi besar-besaran terhadap perusahaan BUMN, khususnya dalam segi Sumber Daya Manusia. Dia berharap, rencana tersebut dapat terealisasi pada BUMN dari yang besar hingga ke bawahnya.
Rosan mencontohkan saham Telkom yang bergerak naik signifikan 81% dalam kurun waktu enam bulan terakhir. Padahal, kata Rosan, nilai valuasi saham Telkom turun dalam lima tahun ke belakang.
Menurutnya, saham Telkom telah merespons positif transformasi yang dilakukan Danantara khususnya di bidang digital. “Kita dengan adanya teknologi baru, AI, blockchain dan harus bertransformasi dan beradaptasi dengan itu," ujar Rosan.
Selain melakukan transformasi SDM dan digital, menurut Rosan masalah integritas juga perlu dipertimbangkan. Dia bilang, Danantara tidak mentoleransi tindakan merugikan seperti korupsi.
Apabila merujuk data perdagangan Bursa Efek Indonesia pada penutupan Rabu (14/1), harga saham TLKM ditutup naik 0,93% atau 30 poin ke level 3.650. Harga sahamnya naik 3,11% dalam satu pekan terakhir dan naik 30,36% dalam enam bulan terakhir.
Spin Off Aset Rp 90 Triliun ke InfraNexia
Menjelang akhir tahun 2025, TLKM resmi memisahkan atau melakukan spin off bisnis dan aset wholesale fiber connectivity (tahap I) ke PT Telkom Infrastruktur Indonesia (TIF) atau InfraNexia.
Direktur Strategic Business Development & Portofolio Telkom Seno Soemadji mengatakan nilai aset InfraNexia pada tahap pertama senilai Rp 35 triliun, dan total asetnya setelah proses spin off selesai mencapai Rp 90 triliun.
Telkom akan mengalihkan hampir seluruh bisnis dan aset Fiber Connectivity sebanyak 99,99% ke InfraNexia. Pada tahap awal, pengalihan kepemilikan baru terealisasi sebesar 50%.
Adapun InfraNexia diproyeksikan menjadi sumber pertumbuhan baru yang akan mendukung peningkatan kinerja Telkom melalui optimalisasi aset infrastruktur serta penguatan kualitas layanan infrastruktur digital.
Lewat spin off, InfraNexia akan mengembangkan bisnis fiber, mendorong efisiensi operasional dan belanja investasi, serta membuka ruang bagi skema network sharing dan kemitraan strategis untuk menciptakan nilai tambah bagi para pemangku kepentingan.