Unilever (UNVR) Raup Laba Rp 7,64 Triliun, Melonjak 126%
PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) mencatatkan laba bersih Rp 7,64 triliun sepanjang 2025, atau meningkat 126,87% dibandingkan tahun sebelumnya Rp 3,36 triliun.
Merujuk laporan keuangan perusahaan per Desember 2025, UNVR membukukan penjualan bersih Rp 31,94 triliun atau naik 4,31%. Kontributor terbesar perusahaan masih berasal dari segmen kebutuhan rumah tangga dan perawatan tubuh Rp 23,35 triliun, sedangkan makanan dan minuman Rp 8,58 triliun.
Sementara itu, harga pokok penjualan perseroan tercatat naik dari Rp 16,06 triliun menjadi Rp 16,94 triliun. Laba bruto perseroan naik dari Rp 14,55 triliun menjadi Rp 14,99 triliun/
Setelah dikurangi beban pemasaran dan penjualan sebesar Rp 7,39 triliun, beban umum dan administrasi sebesar Rp 2,96 triliun dan beban lain-lain Rp 44,68 triliun, UNVR mencetak laba usaha Rp 4,59 triliun.
Dari sisi neraca, total aset perusahaan Rp 20,01 triliun dan jumlah liabilitas Rp 15,54 triliun.
Unilever Indonesia Jual Bisnis Teh Sariwangi Rp 1,5 Triliun
PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) sebelumnya menjual bisnis teh bermerek Sariwangi senilai Rp 1,5 triliun. Sekretaris Perusahaan Unilever Indonesia Padwestiana Kristanti menyampaikan UNVR telah menandatangani Business Transfer Agreement (BTA) dengan pihak pembeli yang tidak memiliki hubungan afiliasi, yakni PT Savoria Kreasi Rasa pada 6 Januari.
Ia mengatakan lewat dalam keterbukaan informasi BEI, bahwa transaksi itu direncanakan rampung pada 2 Maret. BTA tersebut tunduk pada hukum Republik Indonesia, dan setiap sengketa yang timbul akan diselesaikan melalui arbitrase di Singapore International Arbitration Centre (SIAC).
Penilaian bisnis independen telah dilakukan oleh Kantor Jasa Penilai Publik Suwendho Rinaldy dan Rekan dengan nilai pasar Rp 1,48 triliun. Nilai transaksi ini setara dengan 45% dari ekuitas perseroan berdasarkan Laporan Keuangan Perseroan per 30 September 2025 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik (KAP).
Unilever Indonesia juga mencatat total aset bisnis teh bermerek “Sariwangi” setara dengan 2,5% dari total aset perusahaan. Kontribusi laba bersih bisnis ini 3,1% terhadap laba bersih. Sementara pendapatan usaha dari bisnis teh Sariwangi berkontribusi sekitar 2,7% terhadap total pendapatan usaha Unilever Indonesia.
Menurut Padwestiana transaksi tidak akan memberikan dampak material terhadap kegiatan operasional, hukum, maupun kelangsungan usaha Perseroan. Penjualan bisnis teh tersebut akan memungkinkan Perseroan untuk merealisasikan nilai investasinya dalam bisnis teh di Indonesia dan mengembalikan nilai tersebut kepada para pemegang sahamnya dalam jangka pendek.