Bank Danamon (BDMN) Cetak Laba Bersih Rp 4 Triliun sepanjang 2025
PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) membukukan laba bersih konsolidasian setelah pajak dan kepentingan minoritas sebesar Rp 4 triliun pada 2025, tumbuh 14% dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan laba ditopang pertumbuhan pendapatan, efisiensi biaya, serta perbaikan biaya kredit (cost of credit) yang turun 10% secara tahunan.
Chief Financial Officer (CFO) Danamon, Theresia Adriana mengatakan, laba operasional sebelum pencadangan atau pre-provision operating profit (PPOP) konsolidasian mencapai Rp 9,6 triliun, meningkat 4% secara tahunan. Kinerja tersebut mencerminkan pertumbuhan pendapatan operasional yang tetap solid di tengah dinamika industri perbankan.
Dari sisi profitabilitas, margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) konsolidasian tercatat sebesar 7,7%. Perseroan juga menekankan prinsip kehati-hatian dalam ekspansi bisnis.
“Ini tercermin pada kualitas aset Danamon yang tetap terjaga dengan baik pada semester kedua tahun 2025,” kata Theresia dalam paparan kinerja keuangan 2025 secara virtual, Kamis (19/2).
Dia menyebutkan, kualitas aset menunjukkan perbaikan. Rasio loan at risk (LAR) turun 230 basis poin menjadi 8,3%. Sementara rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) membaik 20 basis poin menjadi 1,7%. Rasio pencadangan terhadap NPL (NPL coverage) mencapai 280,7%. Sementara cakupan LAR meningkat 560 basis poin menjadi 54,9%.
Likuiditas dan permodalan tetap kuat, tercermin dari liquidity coverage ratio (LCR) sebesar 158,9%, net stable funding ratio (NSFR) 117,9%, serta rasio kewajiban penyediaan modal minimum (KPMM) konsolidasian sebesar 25,4%.
Dalam aspek intermediasi, total kredit dan trade finance konsolidasian Danamon mencapai Rp 212,7 triliun hingga 31 Desember 2025, tumbuh 9% dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan kredit didorong oleh seluruh lini bisnis, mulai dari Enterprise Banking dan Financial Institution, SME Banking, Consumer Banking hingga Adira Finance.
Di sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) konsolidasian tumbuh 16% menjadi Rp 176,9 triliun. Simpanan giro dan tabungan atau current account and saving account (CASA) naik 18% secara tahunan menjadi Rp 75,2 triliun.
Theresia menjelaskan, kinerja keuangan 2025 telah memperhitungkan dampak penggabungan usaha Mandala Finance dan Adira Finance yang berada dalam pengendalian yang sama oleh MUFG sejak 1 April 2024. Karena itu, terdapat perbedaan basis perbandingan dengan laporan keuangan 2024 yang dipublikasikan sebelumnya.
Jika dampak penggabungan usaha tersebut dikecualikan, total kredit dan trade finance konsolidasian per akhir 2025 tercatat Rp 206,9 triliun, tumbuh 9% secara tahunan. Dana pihak ketiga meningkat 15% menjadi Rp 176,9 triliun.
Pada skenario yang sama, pendapatan operasional konsolidasian mencapai Rp 19,5 triliun atau tumbuh 3% secara tahunan. PPOP tercatat Rp 8,6 triliun, naik 4%, sementara laba bersih setelah pajak sebesar Rp 3,9 triliun atau melonjak 21% dibandingkan tahun sebelumnya.