Unilever Stop Rekrutmen secara Global 3 Bulan Imbas Konflik Timur Tengah
Unilever Global (UNVR.L) membekukan perekrutan global selama tiga bulan imbas meluasnya konflik di Timur Tengah. Penghentian sementara rekrutmen pegawai itu berlaku “di semua tingkatan”.
Dilansir dari Reuters, Unilever menyatakan pembekuan tersebut akan berlaku segera dengan mempertimbangkan tantangan dari perang antara Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang telah berlangsung selama sebulan.
Adapun perusahaan-perusahaan di seluruh dunia, mulai dari maskapai penerbangan hingga ritel, tengah berupaya memperkuat diri dari dampak perang tersebut. Pasalnya, konflik itu telah membuat aliran perdagangan global tersendat dan menyebabkan gangguan pasokan minyak dan gas terparah dalam sejarah.
Tak hanya itu, lonjakan biaya energi juga sudah mulai terasa di pasar lain hingga memperlambat produksi di industri seperti kimia dan plastik.
Kepala Divisi Perawatan Pribadi Unilever, Fabian Garcia mengatakan, realitas makroekonomi dan geopolitik, terutama dalam konflik Timur Tengah, menimbulkan tantangan signifikan untuk beberapa bulan ke depan.
“Dengan mempertimbangkan hal ini, tim eksekutif kepemimpinan Unilever telah menyetujui pembekuan perekrutan global di semua tingkatan. Kebijakan ini berlaku segera dan akan berlangsung minimal tiga bulan,” tulis Garcia dikutip Reuters, Rabu (1/4).
Adapun raksasa produk konsumen yang berbasis di London, Inggris, itu memiliki beberapa merek terkemuka di dunia. Untuk memproduksi sebagian besar barangnya yang berupa consumer goods, Unilever membeli bahan kimia, makanan, kemasan, dan bahan baku lain yang membutuhkan energi tinggi untuk diproduksi.
Unilever juga mengatakan, di tengah ketidakpastian ini, pihaknya akan menyesuaikan rencana seiring dengan kebutuhan yang ada.
Terapkan Pengetatan Biaya
Selain pembekuan rekrutmen, program pengetatan biaya juga telah diterapkan Unilever sejak 2024 demi menghemat sekitar 800 juta euro atau sekira US$ 916,72 juta dalam tiga tahun ke depan.
Kebijakan yang diusulkan Unilever saat itu diperkirakan memengaruhi sekitar 7.500 pekerjaan secara global, sebagian besar di kantor. Adapun jumlah karyawan perusahaan saat ini sebanyak 96.000 orang, turun dari sekitar 149.000 orang yang dipekerjakannya pada 2020.
Unilever juga kesulitan untuk meningkatkan volume penjualan di seluruh bisnisnya pasca pandemi Covid-19. Saat ini, Unilever tengah dalam pembicaraan untuk menjual bisnis makanan kepada pesaing yang lebih kecil, McCormick & Company (MKC.N). Hal itu di sampaikan pada pada 20 Maret.
Berdasarkan rencana penggabungan tersebut, yang akan menandai perubahan besar di bawah kepemimpinan CEO Fernando Fernandez, pemegang saham grup Inggris itu kemungkinan akan mempertahankan saham mayoritas di entitas baru, demikian dilaporkan Reuters akhir pekan lalu.
Menurut pantauan, saham Unilever terkoreksi di kisaran 0.74 hingga 80-an persen dalam perdagangan di London pada Rabu (1/4) pagi waktu setempat.