Fitch Ratings Ungkap Potensi Risiko Bank Himbara, Soroti Dukungan Pemerintah
Lembaga pemeringkat global Fitch Ratings menyoroti tekanan terhadap profil kredit bank-bank besar pelat merah Indonesia setelah outlook utang negara Indonesia direvisi menjadi negatif. Meski demikian, Fitch menilai fundamental sebagian besar bank masih stabil.
Dalam laporan terbaru bertajuk Sovereign Outlook Weighs on Indonesian Banks IDRs, but Most VRs Stable, Fitch menyebut peringkat jangka panjang atau Long-Term Issuer Default Ratings (IDRs) bank-bank BUMN besar seperti Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia, dan Bank Negara Indonesia masih sangat dipengaruhi oleh dukungan pemerintah.
“Peringkat IDR jangka panjang bank-bank BUMN besar Indonesia didorong oleh Government Support Ratings (GSR) yang berada pada level sama dengan sovereign rating Indonesia di BBB/Negative,” tulis Fitch dalam laporannya yang dirilis Rabu (21/5).
Fitch menjelaskan outlook negatif pada bank-bank tersebut mencerminkan potensi berkurangnya kemampuan pemerintah dalam memberikan dukungan luar biasa kepada perbankan jika tekanan fiskal meningkat. Hal itu mengingat peringkat default emiten jangka panjang (IDR) bank-bank tersebut sangat dipengaruhi oleh Government Support Rating (GSR). Meski begitu lembaga pemeringkat itu menilai kemauan pemerintah untuk menopang bank-bank tersebut masih tetap kuat.
“Fitch percaya kemauan negara untuk mendukung bank-bank ini tetap terjaga mengingat pentingnya mereka secara sistemik, kepemilikan mayoritas negara, dan dalam kasus BRI, peran kebijakan yang strategis,” demikian tertulis dalam laporan tersebut
Fitch Ratings menegaskan prospek negatif terhadap bank-bank BUMN besar Indonesia, yaitu PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) sejalan dengan prospek sovereign Indonesia yang juga berada pada level BBB atau negatif.
Sementara itu, peringkat PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga berada pada level BBB/Negatif. Fitch menjelaskan bahwa peringkat tersebut terutama ditopang oleh Viability Rating (VR) di level ‘bbb’, namun tetap dibatasi oleh prospek negatif sovereign, karena VR tidak dapat melebihi peringkat negara.
Fitch menilai profil bisnis BCA yang sangat bergantung pada pasar domestik membuat peringkat bank tetap sensitif terhadap risiko sovereign Indonesia. Fitch juga menyoroti bahwa meningkatnya ketidakpastian kebijakan dan ketegangan geopolitik berpotensi menambah risiko penurunan terhadap lingkungan operasional perbankan Indonesia secara keseluruhan.
“Namun kami tidak memperkirakan hal ini akan merusak profil kredit bank-bank besar dalam jangka pendek,” tulis Fitch Ratings, Kamis (21/5).
Pengaruhi Persepsi Investor
Fitch juga mencatat bahwa pertumbuhan PDB sekitar 5% masih dapat mendukung ekspansi kredit yang sehat di kisaran 8%–9% pada 2026. Namun, profitabilitas perbankan berpotensi tertekan akibat kenaikan pencadangan kerugian kredit, meskipun tekanan pada margin bunga bersih (net interest margin) diperkirakan mulai mereda.
Di sisi lain, cakupan pencadangan yang memadai membuat Fitch tidak memperkirakan terjadinya lonjakan kerugian kredit secara signifikan. Fitch menjelaskan bahwa peringkat Viability Rating (VR) bank-bank besar tetap ditopang oleh dominasi bisnis domestik dan kekuatan profitabilitas dan permodalan. Namun, VR tersebut dapat turun apabila penilaian terhadap lingkungan operasional perbankan Indonesia ikut memburuk.
Kondisi ini dapat terjadi apabila ketegangan geopolitik berlangsung berkepanjangan. Apalagi secara bertahap melemahkan kemampuan debitur dalam membayar utang akibat kenaikan biaya input serta pelemahan permintaan. Lalu juga jika terjadi ekspansi kredit berbasis kebijakan yang meningkatkan risiko kredit tanpa mitigasi yang memadai.