MOLI Bidik Peluang Program E5, Siapkan Pasokan Bioetanol 6 Juta Liter

ANTARA FOTO/Idhad Zakaria/bar
Petugas SPBU menunjukan contoh produk Pertamax Green 95 di SPBU 44.571.28 Pedaringan, Solo, Jawa Tengah, Senin (28/7/2025).
9/6/2026, 20.08 WIB

Produsen etanol dan karbondioksida cair, PT Madusari Murni Indah Tbk (MOLI) atau Molindo, merespons kebijakan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang akan mewajibkan seluruh badan usaha pengelola stasiun bahan bakar umum (SPBU) untuk mencampurkan produk bahan bakar minyak (BBM) dengan bioetanol sebanyak 5% atau E5 hingga 10% atau E10.

Direktur Utama MOLI, Jose Gonjoran Tan, mengatakan perusahaan menyiapkan alokasi sekitar 6 juta liter etanol untuk kebutuhan bahan bakar (fuel grade) hingga akhir 2026. Namun, realisasi penyerapan volume tersebut masih bergantung pada perkembangan pasar dan implementasi program bioetanol nasional.

Saat ini, MOLI memiliki kapasitas produksi etanol terpasang sekitar 10 juta liter. Dari jumlah tersebut, sekitar 4 juta liter telah dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan etanol anhydrous grade bagi sektor industri, sehingga tersisa sekitar 6 juta liter yang dapat diarahkan untuk pasar bahan bakar.

Jose menilai potensi permintaan bioetanol di dalam negeri sangat besar. Dengan konsumsi bensin nasional yang mencapai sekitar 30 miliar liter per tahun, kebutuhan etanol untuk campuran E5 diperkirakan mencapai sekitar 1,75 miliar liter per tahun.

Di sisi lain, MOLI menyambut rencana pemerintah yang akan mengembangkan lahan untuk komoditas bahan baku bioetanol seperti jagung, singkong, dan tebu. Menurutnya, pembukaan lahan hingga jutaan hektare untuk komoditas tersebut dapat mendukung ketersediaan pasokan bahan baku bagi industri bioetanol ke depan.

Perusahaan juga akan terus memantau implementasi strategi dan peta jalan yang disiapkan pemerintah terkait pengembangan ekosistem bioetanol nasional. Termasuk penguatan sektor hulu melalui perluasan area tanam.

Selain itu, MOLI juga membuka peluang diversifikasi bahan baku. Sejak 2018, perusahaan telah melakukan berbagai penelitian dan pengembangan (R&D) untuk mengkaji penggunaan bahan baku alternatif, baik dari generasi pertama maupun generasi kedua, dengan tetap mempertimbangkan aspek keekonomian dan ketersediaan sumber daya di dalam negeri.

“Kami sekarang ini masih terus berusaha untuk mencari apa yang paling efisien untuk dijadikan sebagai etanol, bisa diproduksi sebagai etanol, memakai bahan baku yang lain,” kata Jose dalam paparan publik secara virtual, Selasa (9/6).

Ia juga menilai kebijakan pemerintah yang saat ini semakin kuat terhadap pengembangan industri bioetanol nasional. Menurut dia, kebijakan yang membuka peluang impor etanol dari Amerika Serikat dengan tarif 0% perlu disikapi secara proporsional mengingat pasokan domestik saat ini masih belum mampu memenuhi potensi kebutuhan bioetanol, terutama untuk implementasi program E5 dan E10.

Jose mengatakan Indonesia dapat mencontoh pendekatan yang diterapkan sejumlah negara, seperti Filipina, yang mengombinasikan pasokan bioetanol dari impor dan produksi dalam negeri. Melalui skema tersebut, ketergantungan terhadap impor dapat dikurangi secara bertahap seiring peningkatan kapasitas produksi lokal.

Menurutnya, kombinasi antara impor dan penguatan industri domestik dapat menjadi model yang efektif untuk mendukung pengembangan ekosistem bioetanol nasional sekaligus memenuhi kebutuhan pasar yang terus bertumbuh.

Di samping itu, MOLI juga mengalokasikan belanja modal (capex) untuk tahun buku 2026 sebesar Rp 350 miliar. Jose mengatakan dana capex tersebut akan digunakan untuk investasi pada peralatan distilasi baru, lini produksi liquid CO2, boiler dan berbagai peralatan pendukung lainnya.

Ia menyebut investasi itu bertujuan meningkatkan kapasitas produksi, menciptakan proses produksi yang lebih efisien, menekan biaya operasional dan membuka peluang pengembangan produk etanol dengan nilai tambah lebih tinggi. 

“Investasi ini diharapkan bisa meningkatkan kapasitas produksi, mendorong efisiensi proses dan biaya produksi, serta membuka peluang pengembangan produk etanol,” ucapnya.

Manajemen MOLI optimistis kinerja perseroan akan terus bertumbuh dalam beberapa tahun ke depan seiring penyelesaian sejumlah proyek investasi strategis. Perseroan menargetkan fasilitas produksi karbon dioksida (CO2) rampung pada 2027, yang akan meningkatkan dua kali lipat kapasitas produksi CO2.

Menurut manajemen, pasokan CO2 di Indonesia saat ini masih terbatas, sementara harga komoditas tersebut terus meningkat. Kondisi ini diperkirakan akan memberikan kontribusi tambahan terhadap profitabilitas perusahaan mulai tahun depan.

Selain itu, MOLI juga menargetkan penyelesaian unit distilasi baru pada September 2027. Proyek tersebut diharapkan dapat menurunkan biaya produksi sehingga membantu meredam tekanan dari kenaikan biaya operasional, termasuk energi dan bahan bakar. Perseroan juga berencana memperluas pasar dengan menghadirkan produk etanol premium bernilai tambah lebih tinggi yang menawarkan margin keuntungan yang lebih besar.

"Kami optimistis dapat membukukan kinerja dan pertumbuhan yang kuat dalam beberapa tahun ke depan, didukung oleh investasi serta berbagai strategi bisnis yang telah kami jalankan," ujar manajemen MOLI.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila