Ramai soal Fenomena Pidatomology, Benarkah Pidato Prabowo Berpengaruh ke IHSG?
Istilah "pidatomology" belakangan ramai menjadi perbincangan di media sosial. Fenomena itu muncul lantaran IHSG beberapa kali terjun ke zona merah seusai Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato.
Sebagai contoh, pada Rabu (24/6) lalu, IHSG ditutup terkoreksi 3,56% ke level 5.883. Penurunan indeks terjadi seusai pidato Prabowo pada Puncak Pekan Nasional Petani Nelayan XVII di Gorontalo.
Dalam pidatonya kala itu, kepala negara menyoal pihak-pihak yang membiayai aksi demonstrasi. Prabowo juga membahas tentang keterlibatan aparat kepolisian dan TNI di sektor pertanian.
Kemudian Prabowo mengatakan, ada kelompok yang selama ini menikmati keuntungan melalui praktik korupsi dan penyalahgunaan uang negara. Ia menyebut kelompok tersebut menampilkan diri secara sopan dan seolah-olah memiliki kekayaan yang sah, padahal memperoleh harta dari hasil merugikan rakyat.
“Gue kenal semua itu, mereka enggak suka sama Prabowo karena Prabowo ngerti. Saudara-Saudara sekalian, hati-hati lho, saya kasih peringatan mereka-mereka itu, saya tahu siapa yang bayar-bayar demo,” kata Prabowo, sebagaimana disiarkan kanal Youtube Sekretariat Kepresidenan, Rabu (24/6).
Yang tak kalah fenomenal, IHSG juga sempat rontok 4,33% secara intraday pada perdagangan sesi I Senin (18/5), dua hari setelah Prabowo mengeluarkan pernyataan "warga di desa tidak pakai dolar" dalam pidatonya.
“Selama Purbaya (Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa) bisa senyum, tenang saja tidak usah khawatir. Mau dolar berapa ribu (rupiah) kek, kalian di desa-desa tidak pakai dolar,” kata Prabowo saat peresmian operasionalisasi 1.061 unit Koperasi Desa Merah Putih di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5).
Pertanyaannya, apakah pidato kepala negara benar-benar menjadi sentimen yang memengaruhi pasar? Atau investor sebenarnya tengah mencermati arah kebijakan yang disampaikan pemerintah?
Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menilai pelaku pasar tidak bereaksi terhadap pidato semata, melainkan terhadap substansi dan implikasi kebijakan yang disampaikan. Menurutnya, investor lebih mencermati apakah kebijakan tersebut mampu mendukung pertumbuhan ekonomi, menciptakan iklim investasi yang kondusif, dan menopang kinerja emiten di pasar modal.
“Ketika muncul ketidakpastian atau kebijakan yang jauh dari expetasi market sentiment cenderung melemah dan memicu volatilitas pasar,” kata Elandry kepada Katadata.co.id, Selasa (30/6).
Senada, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, menilai pelaku pasar tidak hanya mencermati pernyataan politik yang disampaikan presiden, tetapi juga realisasi kebijakan di lapangan. Menurutnya, investor lebih fokus pada sejauh mana janji atau komitmen yang disampaikan pemerintah dapat diwujudkan melalui implementasi.
“Kami paham sih sebenarnya, intinya apa pun yang disampaikan oleh presiden itu saya rasa ini kalau misalkan diaplikasikan ke kebijakan ekonomi mungkin tidak ekstrem,” ucap Rully dalam Media Day: Juni 2026 - Fear vs Fundamentals: Where Is Indonesia Really Headed?, Selasa (30/6).
Menurutnya, pelaku pasar pada akhirnya lebih menaruh perhatian pada implementasi kebijakan pemerintah dibandingkan speech atau pidato yang disampaikan. Ia mencontohkan sejumlah kebijakan yang sempat diragukan pasar, seperti penyesuaian suku bunga Bank Indonesia maupun pendanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang hingga kini terus berjalan melalui langkah efisiensi pemerintah.
Menurut Rully, di tengah tantangan ekonomi, ia menyoroti pemerintah perlu menjaga stabilitas menjadi prioritas utama. Ia melihat presiden, pemerintah, Kementerian Keuangan, dan Bank Indonesia memiliki fokus yang sama, yakni menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Seiring dengan itu, IHSG ditutup turun 2,42% atau 141,04 poin ke Rp 5.679 pada perdagangan sesi pertama, Selasa (30/6) ini. Saham-saham perbankan jumbo masih berguguran perdagangan hari ini.
Merujuk data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), volume transaksi perdagangan sepanjang sesi pertama mencapai 12,43 miliar saham dan frekuensi sebanyak 903 ribu kali. Kapitalisasi pasar tercatat mencapai Rp 9.963 triliun dengan total nilai transaksi siang ini sebesar Rp 7,52 triliun.
Berdasarkan data Stockbit Sekuritas, investor asing mencatatkan aksi jual bersih dengan total net foreign sell sebesar Rp 699,84 miliar. Secara rinci, hingga penutupan perdagangan saham sesi pertama hari ini, foreign buy tercatat Rp 3,40 triliun dan foreign sell sebesar Rp 4,10 triliun.