Menilik Kinerja Emiten BUMN di Bawah Genggaman Danantara, Untung atau Buntung?
Seluruh badan usaha milik negara (BUMN) yang berada di bawah pengelolaan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) telah menyampaikan laporan keuangan tahun buku 2025. Laporan tersebut menjadi perhatian publik untuk menilai sejauh mana kinerja perusahaan pelat merah setelah dikelola lembaga investasi negara yang resmi beroperasi pada awal 2025.
Di sisi lain, publik juga masih menunggu laporan keuangan konsolidasian Danantara. Hingga Senin (6/7), lembaga yang genap berusia satu tahun pada Februari lalu itu belum mempublikasikan laporan keuangan tahunannya.
Managing Director Danantara Rohan Hafas mengatakan laporan keuangan tersebut masih dalam proses audit dan akan dipublikasikan setelah seluruh tahapan pemeriksaan selesai. Di tengah belum terbitnya laporan keuangan Danantara, lembaga itu justru merilis daftar sejumlah BUMN yang diklaim mencatatkan peningkatan kinerja sejak berada di bawah pengelolaannya.
Seluruh BUMN resmi berada di bawah pengelolaan Danantara sejak 21 Maret 2025, setelah Presiden Prabowo Subianto meluncurkan lembaga tersebut pada 24 Februari 2025. Sebelumnya, pengelolaan BUMN berada di bawah Kementerian BUMN.
Namun, berbeda dengan praktik pelaporan keuangan tahunan, Danantara memilih menggunakan kinerja keuangan per April 2026 secara tahunan sebagai dasar penilaian. Rohan mengatakan periode tersebut dipilih untuk menggambarkan satu tahun pertama BUMN berada dalam ekosistem Danantara.
“Pemilihan ini tidak dimaksudkan sebagai daftar yang bersifat menyeluruh, melainkan sebagai sorotan atas sejumlah BUMN dengan peningkatan kinerja yang menonjol sejak berada dalam ekosistem pengelolaan Danantara Indonesia,” tulis Rohan dalam keterangannya dikutip Senin (6/7).
Ia menambahkan masih terdapat sejumlah BUMN lain yang juga mencatatkan perbaikan kinerja dan menjadi bagian dari agenda transformasi Danantara.
Berdasarkan data yang dipublikasikan Danantara, sejumlah BUMN membukukan kenaikan laba hingga berbalik untung. Pertamina mencatat laba Rp 24,9 triliun atau naik sekitar Rp 11 triliun dibandingkan April tahun sebelumnya. Pupuk Indonesia membukukan laba Rp 4,8 triliun, meningkat Rp 3,2 triliun.
Di sektor perbankan, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) membukukan laba Rp 21,2 triliun, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp 21,3 triliun, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) Rp 7,2 triliun.
Kinerja BUMN Periode April 2025 - 2026
| Perusahaan | Posisi April 2026 | Perubahan (yoy) | Keterangan |
| Pertamina | Rp 24,9 triliun | +Rp 11 triliun | Laba naik 80% |
| Pupuk Indonesia | Rp 4,8 triliun | +Rp 3,2 triliun | Laba naik 202% |
| Pelindo | Rp 1,5 triliun | +Rp 900 miliar | Laba naik 169% |
| InJourney | Rp 300 miliar | +Rp 74 miliar | Laba naik 33% |
| PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) | Rp 21,2 triliun | +Rp 2,8 triliun | Laba naik 15% |
| PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) | Rp 21,3 triliun | +Rp 2,5 triliun | Laba naik 13% |
| PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) | Rp 7,2 triliun | +Rp 381 miliar | Laba naik 6% |
| PT Adhi Karya Tbk (ADHI) | Rp 69 miliar | +Rp 60 miliar | Laba naik 667% |
| PT Krakatau Steel | Rp 635 miliar | +Rp 1,6 triliun (dari posisi rugi 981 miliar) | Turnaround pasca restrukturisasi dan capital support DAM |
| PT Kimia Farma Tbk (KAEF) | Rp 108 miliar | +Rp 268 miliar (dari posisi rugi Rp 160 miliar) | Turnaround pasca restrukturisasi dan capital support DAM |
| PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) | Rp 106 miliar | +Rp 172 miliar (dari posisi rugi Rp 66 miliar) | Turnaround pasca restrukturisasi dan capital support DAM |
(Sumber: data Danantara dikutip Senin (6/7))
Namun, jika mengacu pada laporan keuangan tahun buku 2025 masing-masing BUMN, kinerja sejumlah perusahaan berbeda.
Pertamina masih membukukan kenaikan laba menjadi US$ 3,35 miliar dari US$ 3,13 miliar atau naik sekitar 7%. InJourney juga mencatat lonjakan laba menjadi Rp 7,86 triliun dari Rp 855,89 miliar pada tahun sebelumnya.
Namun, sejumlah BUMN lain justru mengalami penurunan. Pupuk Indonesia membukukan laba Rp 5,53 triliun, turun 36,1% dibandingkan tahun sebelumnya. Laba BBRI turun 5,3% menjadi Rp 57,13 triliun, sedangkan laba BNI turun 6,6% menjadi Rp 20,04 triliun.
Bank Mandiri masih mencatat pertumbuhan laba, namun hanya sebesar 0,89% menjadi Rp 56,3 triliun.
Kinerja BUMN tahun buku 2025 (yoy)
| Perusahaan | Posisi Desember 2025 | Perubahan (yoy) | Keterangan (yoy) |
| Pertamina | Rp 55,2 triliun (US$ 3,35 miliar | +US$ 220 juta (dari posisi US$ 3,13 miliar) | Laba naik 7,03% |
| Pupuk Indonesia | Rp 5,53 triliun | -Rp 3,13 triliun (dari posisi laba Rp 8,66 triliun) | Laba turun 36,1% |
| Pelindo | Rp 4,16 trliun | +Rp 580 miliar (dari posisi laba Rp 3,58 triliun) | Laba naik 16,2% |
| InJourney | Rp 7,86 triliun | +Rp 7 triliun (dari posisi laba 855,89 miliar) | Laba naik 818,3% |
| PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) | Rp 57,13 triliun | -Rp 3,17 triliun (dari posisi laba Rp 60,30 triliun) | Laba turun 5,26% |
| PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) | Rp 56,3 triliun | +Rp 500 miliar (dari posisi laba Rp 55,8 triliun) | Laba naik 0,89% |
| PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) | Rp 20,04 triliun | -Rp 1,36 triliun (dari posisi laba Rp 21,46 triliun) | Laba turun 6,6% |
| PT Adhi Karya Tbk (ADHI) | Rugi Rp 5,40 triliun | Rp 5,31 triliun (dari posisi rugi Rp 86,75 miliar) | Rugi naik 6.124% |
| PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) | Rp 5,44 triliun | Rp 8,02 triliun (dari posisi rugi Rp 2,58 triliun) | Turnover |
| PT Kimia Farma Tbk (KAEF) | Rugi Rp 334,95 miliar | +Rp 507,32 miliar (dari posisi rugi Rp 842,27 miliar) | Rugi turun 60,2% |
| PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) | Rp 190,84 miliar | -Rp 528,92 miliar (dari posisi laba Rp 719,76 miliar) | Laba turun 73,5% |
(Sumber: laporan keuangan tahun buku 2025 masing-masing BUMN, diolah penulis)
Proyek Danantara selama tahun 2025
Selain memaparkan kinerja BUMN, Danantara menyatakan telah mulai merealisasikan mandat investasinya menggunakan sebagian dividen BUMN yang diterima pada 2025.
Beberapa proyek strategis yang mulai dijalankan antara lain pengembangan ekosistem haji dan umrah Indonesia di Makkah untuk meningkatkan layanan bagi jemaah, serta proyek waste to energy (WTE) yang ditujukan mendukung pengelolaan sampah, memperkuat ketahanan energi, dan mendorong transisi menuju ekonomi hijau.
Menurut Rohan, seluruh investasi tersebut dijalankan dengan mengedepankan tata kelola yang baik, disiplin investasi, manajemen risiko yang prudent, serta berorientasi pada penciptaan nilai jangka panjang bagi negara.
Sementara itu, laporan keuangan konsolidasian Danantara masih berada dalam proses audit dan akan dipublikasikan setelah seluruh tahapan pemeriksaan selesai sesuai ketentuan yang berlaku.