Danantara Restrukturisasi Besar-besaran, 652 Perusahaan BUMN Bakal Hilang
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) menyebut sekitar 652 perusahaan akan hilang menyusul percepatan streamlining alias perampingan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Lalu berapa perusahaan pelat merah yang tersisa nanti?
Pada Kamis (6/8) kemarin, Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, dan utusan khusus Presiden membahas perkembangan transformasi BUMN. Salah satu topik yang dibahas mengenai percepatan program streamlining hingga berbagai perkembangan transformasi yang tengah dijalankan di lingkungan BUMN.
Dony mengatakan hingga saat ini sebanyak 274 entitas telah ditata sebagai bagian dari transformasi pengelolaan BUMN. Ia menegaskan program streamlining terus berjalan sesuai target.
“Kurang lebih nanti total yang akan kami selesaikan itu 652 perusahaan yang akan hilang, sehingga nanti kita hanya akan punya 250 perusahaan,” ungkap Dony, mengutip dari akun Instagram resmi BP BUMN, Jumat (7/8).
Tak hanya itu, dia mengaku sudah mulai merasakan dampak positif dari transformasi di sejumlah BUMN. Salah satunya melalui perubahan strategi bisnis Pupuk Indonesia yang membukukan laba hingga Rp 6,1 triliun dalam enam bulan pertama tahun ini.
Dony menjelaskan lebih lanjut bahwa transformasi juga mulai mendorong kenaikan kapasitas produksi dan memperluas pasar ekspor industri pupuk nasional. “Sekarang kami sudah membangun 8 dan memperbaiki 8 pabrik pupuk kami dan sudah mulai ekspor pupuk, bulan lalu ekspor perdana kami ke Australia. Jadi kami sudah menjadi eksportir pupuk sekarang,” ujar Dony.
Dikatakannya, BP BUMN dan Danantara mendorong BUMN menjadi perusahaan yang lebih sehat, adaptif, dan berdaya saing. Penyederhanaan struktur perusahaan, penguatan strategi bisnis, hingga peningkatan kinerja operasional diharapkan mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional.