Entitas yang dikendalikan Universitas Gadjah Mada (UGM), PT Swayasa Prakarsa Tbk (SWAP) bersiap menjadi penghuni baru Bursa Efek Indonesia (BEI). Emiten sektor kesehatan itu dijadwalkan melantai di bursa pada 10 September 2026.

PT Swayasa Prakarsa berdiri pada 12 Januari 2012 dan mulai beroperasi secara komersial pada 2014. Perseroan dibentuk sebagai wadah komersialisasi hasil riset Universitas Gadjah Mada (UGM), khususnya untuk mendorong hilirisasi hasil penelitian dan inovasi menjadi produk industri yang kompetitif.

Saat ini, SWAP menjalankan bisnis manufaktur produk kesehatan berbasis riset. Pengembangan bisnis dilakukan secara bertahap, dimulai melalui Unit Gama Herbal Indonesia yang memproduksi produk herbal.

Pada 2014, perseroan mengembangkan Unit Heprogama yang bergerak dalam manufaktur alat kesehatan. Kemudian pada 2017, perseroan memperluas bisnis melalui Unit Gamafood yang memproduksi makanan kesehatan. Ekspansi berlanjut pada 2022 dengan mendirikan Unit Distribusi IMEDEV untuk memperkuat distribusi dan rantai nilai bisnis perseroan.

SWAP akan segera IPO dengan jadwal sebagai berikut:

  • Masa Penawaran Awal (Bookbuilding) : 24-27 Agustus 2026
  • Tanggal Efektif : 31 Agustus 2026
  • Masa Penawaran Umum Perdana Saham : 2-8 September 2026
  • Tanggal Penjatahan : 8 September 2026
  • Tanggal Distribusi : 9 September 2026
  • Tanggal Pengembalian Uang Pemesanan : 9 September 2026
  • Tanggal Pencatatan Pada Bursa Efek Indonesia : 10 September 2026

Katadata.co.id juga merangkum setidaknya lima fakta terkait IPO SWAP.

SWAP Tawarkan Harga Rp 130 – Rp 140 per Saham

Dalam hajatan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO), SWAP menawarkan sebanyak-banyaknya 323 juta saham baru atau setara 30,30% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Saham tersebut ditawarkan di kisaran harga Rp 130 hingga Rp 140 per saham. 

Melalui aksi korporasi ini, SWAP berpotensi meraup dana segar hingga mencapai Rp 45,22 miliar. Adapun emiten di sektor kesehatan itu menunjuk PT Sukadana Prima Sekuritas bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi efek.

Rencana SWAP Usai IPO

Rencananya, dana hasil IPO sebesar Rp 15,8 miliar dialokasikan sebagai modal kerja untuk meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas produk. Perseroan juga mengalokasikan sekitar Rp 12,2 miliar dana hasil IPO untuk belanja modal atau capital expenditure (capex).

Selain itu, perseroan akan menggunakan Rp 12 miliar untuk pembayaran utang. Secara rinci, sebesar Rp 2 miliar untuk melunasi utang kepada PT Gama Multi Usaha Mandiri (GMUM) dan Rp 10 miliar kepada Yayasan Universitas Gadjah Mada (YUGM).

Meski begitu, perseroan mengingatkan adanya risiko terkait kebijakan pembagian dividen. Keputusan pembagian dividen akan ditentukan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) tahunan dengan mengacu pada kondisi keuangan perseroan.

Apabila perseroan mencatatkan rugi bersih, kondisi tersebut dapat menjadi pertimbangan untuk tidak membagikan dividen. Perseroan juga akan mempertimbangkan kebutuhan modal kerja, belanja modal, dan rencana pengembangan usaha sebelum memutuskan pembagian dividen.

“Jika terjadi kerugian bersih, maka hal tersebut akan menjadi pertimbangan RUPS untuk tidak membagikan dividen,” tulis dalam prospektus perusahaan, dikutip Senin (24/8).

SWAP Rugi Rp 570 Juta

Dari sisi kinerja keuangan, pendapatan SWAP mencapai Rp 588,87 juta selama Januari - Februari atau naik 28,16% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp 459,48 juta. Kenaikan terutama dari penjualan produk Insahunt dan TopClean RSF Handrub.

Meski pendapatan meningkat, perseroan masih mencatatkan rugi bersih Rp 570,59 juta hingga Februari 2026. Kerugian ini menyusut 41,70% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 978,70 juta.

Apabila melihat kinerja keuangan tahun buku 2025, pendapatan SWAP tercatat Rp 7,12 miliar, turun 30,25% dari Rp 10,21 miliar pada 2024, akibat penurunan penjualan Ventilator V-01.

Pada 2025 SWAT mencatatkan laba Rp 1,42 miliar pada 2025. Angka itu anjlok 58,97% dari laba tahun buku 2024 sebesar Rp 3,46 miliar. Penurunan kerugian terutama dipengaruhi penurunan kegiatan penjualan produk Venindo.

Pengendali dan Komposisi Pemegang Saham SWAP Usai IPO

Setelah IPO, PT Gama Multi Usaha Mandiri (GMUM) menjadi pemegang saham mayoritas sebanyak 67,72% atau 721.898.050 saham. Lalu Universitas Gadjah Mada (UGM) sebesar 1,88% atau 20.009.190 saham dan PT Radio Swaragama sebesar 0,05% atau 549.920 saham. 

Pemegang SahamJumlah Saham Setelah IPOKepemilikan
PT Gama Multi Usaha Mandiri721.898.05067,72%
Universitas Gadjah Mada20.009.1901,88%
PT Radio Swaragama549.920,05%
Bondan Ardiningtyas542.840,05%
Masyarakat323.000.00030,30%
Total1.066.000.000100,00%

Sumber: prospektus perusahaan

Berdasarkan Surat Pernyataan Pengendali Perseroan tertanggal 12 Agustus 2026, Universitas Gadjah Mada (UGM) tercatat sebagai pemegang saham pengendali PT Swayasa Prakarsa. UGM yang diwakili Rektor Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K)., Ph.D. menegaskan tidak akan melepas kendalinya atas perseroan selama 12 bulan sejak tanggal efektif pernyataan pendaftaran IPO.

Risiko Usaha SWAT

Di samping itu, berdasarkan prospektus perusahaan, SWAT mengakui kegiatan usahanya tidak terlepas dari berbagai macam risiko yang dapat mempengaruhi kinerja usaha perseroan. 

“Yang pada gilirannya dapat berpotensi menurunkan hasil investasi yang diperoleh para calon investor dari membeli saham SWAT,” demikian isi prospektus. 

SWAP mengungkapkan risiko distribusi dan pemasaran sebagai risiko utama yang dapat mempengaruhi kelangsungan usahanya. Sebab, produk perseroan merupakan hasil penelitian yang membutuhkan edukasi dan penetrasi pasar.

Apabila strategi distribusi dan pemasaran tak berjalan sesuai rencana, perseroan berisiko mencatatkan pertumbuhan penjualan lebih rendah dari target, penetrasi pasar yang lebih lambat, hingga tidak tercapainya target pengembangan usaha.

Selain risiko utama tersebut, SWAP menghadapi sejumlah risiko usaha lain, antara lain gangguan dan keterlambatan pemenuhan bahan baku, piutang usaha tidak tertagih, persediaan yang tidak dapat dipulihkan, kehilangan personel utama dan keterbatasan sumber daya manusia kompeten, hingga ketergantungan terhadap beberapa pelanggan.

Perseroan juga menghadapi risiko perubahan peraturan dan kebijakan pemerintah. Perubahan regulasi terkait perizinan fasilitas, standar produksi maupun kebijakan industri dapat memperlambat proses perizinan dan peluncuran produk baru. Kondisi tersebut juga berpotensi meningkatkan biaya kepatuhan dan menghambat penetrasi produk ke pasar.

Risiko lainnya berasal dari fluktuasi nilai tukar mata uang asing, mengingat perseroan berencana membeli peralatan produksi dan bahan baku impor. Pelemahan rupiah secara signifikan dapat meningkatkan kebutuhan belanja modal dan beban operasional.

SWAP juga mencantumkan risiko proses balik nama tanah yang direncanakan menjadi lokasi pembangunan gedung baru, dan risiko investasi dan aksi korporasi. 

Penerbitan saham baru di masa depan juga berpotensi mendilusi kepemilikan investor yang tidak berpartisipasi. Sedangkan penerbitan instrumen utang dapat meningkatkan kewajiban pembayaran pokok dan bunga dan mempengaruhi struktur permodalan perseroan.

Adapun risiko umum yang dicantumkan SWAP meliputi kondisi politik Indonesia dan tuntutan atau gugatan hukum yang dapat berdampak terhadap kegiatan usaha, kondisi keuangan, laba bersih dan prospek perseroan.

Dari sisi investasi, SWAP juga mengingatkan adanya risiko likuiditas dan fluktuasi harga saham setelah IPO. Perseroan tidak dapat menjamin sahamnya akan aktif atau likuid diperdagangkan di pasar sekunder. 

Harga saham SWAP nantinya akan mengikuti permintaan dan penawaran investor serta dapat dipengaruhi kinerja perseroan, rekomendasi analis, kondisi ekonomi dan politik, hingga penjualan saham oleh pemegang saham mayoritas.

“Perseroan tidak dapat memprediksi tingkat fluktuasi harga saham perseroan setelah penawaran umum perdana,” demikian isi prospektus.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila