Semarak Konglomerat Buyback Saham, Prajogo Siapkan Dana di Atas Denda BREN-CUAN

ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/sg
Pengunjung memantau layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (16/10/2026).
Penulis: Karunia Putri
21/10/2026, 10.05 WIB

Aksi pembelian kembali saham (buyback) marak dilakukan sejumlah grup konglomerasi dan bank BUMN di tengah gejolak pasar modal Indonesia. Grup Barito milik Prajogo Pangestu menyiapkan dana hingga Rp 3,5 triliun untuk buyback empat emitennya.

Langkah serupa juga dilakukan atau dipertimbangkan oleh emiten Grup Astra, Grup Djarum, serta bank-bank besar seperti BCA, BNI, dan BTN. Aksi ini berlangsung ketika pasar saham tertekan dan BEI berupaya memulihkan kepercayaan investor setelah pengumuman MSCI pada akhir pekan lalu.

Dana buyback yang disiapkan emiten bervariasi, mulai dari Rp 120 miliar oleh Harum Energy hingga Rp 3,5 triliun untuk empat emiten milik Prajogo Pangestu. Berikut rinciannya:

Prajogo Siapkan Daya Buyback Rp 3,5 Triliun, Lebih Besar Dari Denda OJK

Konglomerat Prajogo Pangestu menyiapkan dana Rp 3,5 triliun untuk membeli kembali saham empat emitennya, yakni PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).

Nilai tersebut jauh melampaui denda Rp 600 miliar yang harus dibayarkan Prajogo kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait tindak pidana di pasar modal yang terbukti dilakukan oleh BREN dan CUAN.

Secara rinci, BREN dan BRPT masing-masing menyiapkan dana buyback maksimal Rp 1 triliun. TPIA juga mengalokasikan dana Rp 1 triliun, sedangkan CUAN menyiapkan Rp 500 miliar. Seluruh program buyback berlangsung pada 19 Oktober hingga 31 Desember 2026.

Keempat emiten akan menggunakan dana dari kas internal secara bertahap. Anggaran tersebut mencakup biaya pembelian saham, komisi broker, serta biaya lain yang terkait dengan pelaksanaan buyback.

Manajemen BRPT menyatakan, aksi korporasi tersebut tidak akan berdampak negatif secara material terhadap kinerja operasional maupun pendapatan perseroan karena perusahaan memiliki modal kerja dan arus kas yang memadai.

“Pelaksanaan buyback tidak akan memberikan dampak negatif material terhadap kinerja operasional dan pendapatan Perseroan karena Perseroan memiliki modal kerja dan arus kas yang mencukupi kebutuhan dana untuk melaksanakan buyback,” tulis manajemen BRPT dalam keterbukaan informasi BEI, dikutip Rabu (21/10).

Semarak Bank Jumbo Buyback Saham

Aksi buyback juga menjadi pilihan sejumlah bank besar di tengah gejolak pasar saham. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) menyampaikan langkah masing-masing terkait pembelian kembali saham.

BBCA kembali melaksanakan buyback setelah harga sahamnya menyentuh batas auto rejection bawah (ARB) selama dua hari perdagangan berturut-turut, yakni Jumat dan Senin lalu.

Program buyback tersebut berlangsung pada 19–21 Oktober 2026 dan melanjutkan aksi serupa yang telah direalisasikan pada April dan Juni 2026.

“Aksi korporasi ini merupakan lanjutan dari realisasi program buyback saham yang sebelumnya dilaksanakan pada April dan Juni 2026 lalu,” tulis manajemen BBCA dalam keterangan resmi yang dikutip Senin (19/10).

Manajemen menyatakan, buyback mencerminkan keyakinan perseroan terhadap fundamental bisnis BBCA sekaligus menjadi upaya mendukung stabilisasi pasar modal Indonesia.

Sementara itu, BBNI akan melanjutkan program buyback sebagai bagian dari strategi perseroan dalam merespons dinamika pasar modal. Program tersebut telah diumumkan melalui keterbukaan informasi pada Juli 2026, dengan periode pelaksanaan hingga 26 Oktober 2026.

Adapun BBTN masih mengkaji opsi buyback sebagai salah satu alternatif aksi korporasi. Kajian itu mempertimbangkan kondisi pasar, kebutuhan strategis perseroan, serta potensi penciptaan nilai tambah berkelanjutan bagi pemegang saham.

Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu mengatakan, pergerakan harga saham di tengah dinamika pasar perlu dicermati secara menyeluruh dengan mempertimbangkan fundamental bisnis, prospek pertumbuhan, dan transformasi yang sedang dijalankan perseroan.

Konglomerasi Lain Akan Buyback

Selain itu, konglomerasi lain akan menjalankan program buyback. Dari Grup Astra, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) dan PT United Tractors Tbk (UNTR) siap untuk buyback. 

Emiten kelapa sawit Grup Astra AALI menyiapkan dana buyback sebesar Rp 400 miliar. Program tersebut berlangsung pada 2 Oktober hingga 28 Desember 2026. Sementara itu UNTR mengalokasikan dana buyback lebih besar, yakni Rp 2 triliun. Periode pelaksanaannya dimulai pada 1 Oktober dan berakhir pada 31 Desember 2026.

Di Grup Djarum, selain BBCA, PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) menyiapkan dana Rp 500 miliar untuk membeli kembali saham perseroan pada 30 September hingga 30 Desember 2026. TOWR merupakan emiten menara telekomunikasi yang terafiliasi dengan Grup Djarum melalui kepemilikan dan pengendalian di Sarana Menara Nusantara

Lalu PT Harum Energy Tbk (HRUM) mengalokasikan dana buyback sebesar Rp 120 miliar. Buyback berlangsung pada 28 September hingga 24 Desember 2026. PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) menyiapkan dana Rp 500 miliar untuk pembelian kembali saham pada 17 September hingga 17 Desember 2026. 

Di tengah tekanan pasar saham setelah pengumuman MSCI, buyback menjadi salah satu langkah korporasi yang ditempuh sejumlah emiten. Namun, pemulihan kepercayaan investor tidak hanya bergantung pada aksi pembelian kembali saham, tetapi juga pada penilaian terhadap kinerja keuangan, prospek bisnis, dan fundamental perusahaan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri