Perubahan kepemimpinan di Amerika Serikat (AS) tidak membuat Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution pesimistis terhadap perekonomian Indonesia tahun depan. Ia justru meramalkan pertumbuhan ekonomi bisa melebihi target dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2017 yang sebesar 5,1 persen.
Ia memproyeksi ekonomi domestik bisa melaju di kisaran 5,2 - 5,4 persen tahun depan. Pendorong utamanya, pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak. Proyeksi Darmin, konsumsi Lembaga Non Profit yang melayani Rumah Tangga (LNPRT) bisa tumbuh 10,17 persen di 2017, naik dari proyeksi konsumsi LNPRT tahun ini yang sebesar 7,1 persen.
“Pertumbuhan LNPRT diproyeksikan tumbuh tinggi karena pilkada serentak di 2017,” katanya di Jakarta, Kamis (10/11).
Darmin mengatakan, perekonomian tahun depan juga bakal disokong oleh investasi swasta yang meningkat. Menurutnya, penurunan suku bunga acuan BI 7-Day Repo rate ke level 4,75 persen per Oktober lalu semestinya mendorong swasta menambah pembiayaan untuk ekspansi. (Baca juga: Meski Bunga Rendah, Pengusaha Tak Minat Berutang ke Bank)
Tahun depan, Darmin mengatakan, investasi swasta yang termasuk dalam Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) ditargetkan tumbuh 6,1 persen lebih tinggi dibanding tahun ini yang diproyeksikan mencapai 4,92 persen. PMTB merupakan pengeluaran untuk barang modal sebagai investasi, seperti untuk bangunan, jalan dan bandara, serta mesin dan peralatan.
Atas dasar asumsi tersebut, ia merinci, pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama tahun depan berkisar 5 - 5,15 persen, kuartal kedua sekitar 5,15 - 5,32 persen, kuartal ketiga sebesar 5,1 - 5,35 persen, dan kuartal keempat antara 5,2-5,38 persen. Dengan begitu, untuk keseluruhan tahun pertumbuhan ekonomi tahun diperkirakan bisa mencapai 5,2-5,4 persen tahun depan.
Darmin mengakui proyeksi-proyeksi ini belum memperhitungkan dampak kepemimpinan Donald Trump di AS. Namun, ia memang tak melihat kepemimpinan Trump sebagai ancaman. Pernyataan-pernyataan Trump pada masa kampanye dianggap hanya retorika belaka untuk menarik perhatian pemilih. Seperti diketahui, dalam berbagai kesempatan, Trump kerap mempromosikan kebijakan-kebijakan yang sifatnya proteksionis. Hal tersebut menimbulkan kekhawatiran pasar.
“Secara detail belum mempertimbangkan itu (kepemimpinan Trump),” kata Darmin. Tapi, proyeksi itu sudah mengacu pada data-data ekonomi beberapa tahun terakhir. (Baca juga: Kebijakan Ekonomi Trump: Proteksionisme, Pemangkasan Pajak, Keuangan)
Ia berpendapat proyeksinya tersebut bisa tercapai jika disokong oleh sejumlah kebijakan ekonomi, khususnya yang mendorong investasi. Misalnya, melanjutkan deregulasi peraturan-peraturan yang menghambat investasi serta mengembangkan Sumber Daya Manusia (SDM). Kebijakan tersebut dianggap penting sebab di tengah rendahnya penerimaan negara, kemampuan fiskal pemerintah terbatas dalam mendorong ekonomi. (Baca juga: Kejar Target Penerimaan 2017, Pemerintah Dorong Kepatuhan Pajak)
Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Mandiri Anton Gunawan memperkirakan ekonomi hanya tumbuh 5,1 persen di tahun depan. Hal tersebut seiring dengan perdagangan dan perekonomian global yang diperkirakan masih akan lemah hingga tahun depan. Di sisi lain, investasi diperkirakan belum akan membaik karena permintaan masih rendah.
Ia pun mengaku terkejut dengan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebut pertumbuhan ekonomi sebesar 5,02 persen di kuartal III lalu. Padahal, konsumsi pemerintah dan investasi menurun.
Ia menduga BPS memasukkan indikator seperti tax minus subsidi core production, sehingga produksi tercatat tumbuh 0,88 persen. “Jadi ada komponen yang tidak terkait dengan usaha di sektor-sektor bersangkutan. Kalau dikurangi itu, (pertumbuhan ekonomi) jadinya hanya 4 koma sekian persen. Demand masih lemah,” kata dia.