Respons Bos BI soal Kemenangan Prabowo-Gibran di Quick Count

Bank Indonesia
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memastikan bank sentral akan tetap independen di tengah pesta demokrasi Indonesia.
Penulis: Zahwa Madjid
Editor: Agustiyanti
21/2/2024, 17.23 WIB

Pasangan calon presiden dan wakil presiden Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka menang telak dalam Pilpres 2024 berdasarkan hitung cepat atau quick count sejumlah lembaga survei. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memastikan bank sentral akan tetap independen di tengah pesta demokrasi Indonesia.

“BI independen dari pemerintah. Mandat kami jelas sesuai UU menjaga stabilitas, stabilitas rupiah, stabilitas sistem keuangan melalui kebijakan moneter dan sistem pembayaran untuk mendukung pe berkelanjutan,” kata Perry dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (21/2).

Kendati demikian, ia mastikan Bank Indonesia akan terus bersinergi dengan pemerintah. Salah satunya dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang beranggotakan Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

“Meskipun kami independen, kami akan terus bersinergi dengan pemerintah. Komitmen kami akan terus bersinergi dengan pemerintah dan karenanya itu tentu saja kami akan melakukan koordinasi itu dengan pemerintah,” ujar Perry.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira sebelumnya mengatakan, para investor masih menunggu dan mencermati keputusan resmi perhitungan Pemilu meski dalam quick count sudah menunjukkan tanda-tanda kemenangan Prabowo - Gibran. 

“Investor tetap memperhatikan beberapa hal, apakah ada gugatan bagi mereka yang gagal, apakah mereka akan mengugat di Mahkamah Konstitusi (MK), itu menjadi salah satu isu,” ujar Bhima kepada Katadata.co.id, Jumat (16/2).

Jika Prabowo - Gibran resmi dilantik menjadi presiden dan wakil presiden, menurut dia, para investor masih akan melihat apakah program-program unggulan mereka dapat terlaksana dan seuai dengan anggaran yang tersedia.

Di sisi lain, menurut dia, situasi global juga masih tidak menentu. Hal tersebut akan membawa tantangan baru untuk kabinet pemerintahan baru. Bhima memperkirakan perdagangan dan ekonomi global melambat untuk dua tahun ke depan.

Reporter: Zahwa Madjid