Rupiah Rawan Melemah, Pasar Cemas AS Campur Tangan di Konflik Iran-Israel
Sejumlah analis memproyeksikan rupiah masih akan melanjutkan pelemahannya terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada hari ini, dipicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump disebut akan mengambil keputusan dalam dua pekan ke depan terkait dukungan militer ke Israel yang tengah berperang dengan Iran.
“Ada potensi rupiah terus melemah karena kekhawatiran AS akan membantu Israel menyerang Iran. Ini bisa memicu peningkatan tensi di Timur Tengah dan mengundang keterlibatan sekutu Iran,” ujar pengamat pasar uang Ariston Tjendra kepada Katadata.co.id, Jumat (20/6).
Ariston memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp 16.300–Rp 16.400 per dolar AS pada hari ini.
Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.05 WIB, rupiah dibuka melemah di level Rp 16.406 per dolar AS, turun 93,5 poin atau 0,57% dibandingkan penutupan sebelumnya.
Pandangan serupa disampaikan pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi. Ia menyebut rupiah masih berpotensi melemah di rentang Rp 16.400–Rp 16.460 per dolar AS.
Menurut Ibrahim, sentimen pasar dipengaruhi oleh laporan yang menyebut AS sedang mempersiapkan serangan terhadap Iran. “Meski rencana belum final, beberapa pejabat AS menyebut akhir pekan ini sebagai waktu potensial untuk bertindak,” ujarnya.
Namun Analis Doo Financial Futures Lukman Leong melihat peluang penguatan rupiah masih terbuka. Ia memproyeksikan rupiah bisa menguat ke level Rp 16.300 per dolar AS, didorong oleh harapan tercapainya kesepakatan damai.
“Trump menunda serangan ke Iran selama dua pekan. Ini memberi waktu bagi proses diplomasi dan membuka peluang perdamaian,” kata Lukman.