Serba-serbi Perjanjian IEU-CEPA, Uni Eropa Bakal Hapus 80% Tarif Dagang ke RI

Kemenko Perekonomian
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bersama Presiden Prabowo Subianto dalam Indonesia–European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) di Brussels, 13 Juli 2025.
14/7/2025, 10.27 WIB

Indonesia dan Uni Eropa menyepakati langkah konkret menuju penyelesaian Indonesia–European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA).

Perjanjian yang telah dirundingkan sejak 2016 ini diproyeksikan akan menghapus sekitar 80% pos tarif, membuka peluang baru bagi arus perdagangan dan investasi kedua pihak.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa IEU-CEPA kini memasuki tahap akhir, yang ditandai dengan pertukaran surat (exchange of letters) antara dirinya dan Komisioner Perdagangan Uni Eropa, Maroš Šefčovič, di Brussels.

“Surat tersebut memuat apresiasi atas capaian perundingan dan komitmen bersama untuk menyelesaikan perundingan secara konklusif, termasuk menyelesaikan isu substansial yang masih tersisa,” kata Airlangga dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (14/7).

Airlangga menekankan bahwa pertukaran surat ini merupakan simbol politik tingkat tinggi yang mencerminkan keseriusan kedua pihak untuk menuntaskan perjanjian pada tahun 2025.

“Saya menyampaikan apresiasi atas komitmen berkelanjutan dan keterlibatan konstruktif dari Uni Eropa. Dukungan Komisioner Maroš dan tim perunding sangat berarti dalam seluruh proses ini,” katanya. 

Akses Pasar Lebih Luas

Perjanjian IEU-CEPA diyakini akan memberikan akses pasar yang jauh lebih besar bagi pelaku usaha di kedua kawasan. Dengan penghapusan sekitar 80% pos tarif, ekspor dan impor antara Indonesia dan Uni Eropa diprediksi melonjak signifikan.

“Dengan populasi lebih dari 285 juta jiwa, Indonesia merupakan pasar yang besar dan dinamis. Sebaliknya, Uni Eropa adalah kekuatan ekonomi global dengan lebih dari 400 juta penduduk. Ini akan jadi lompatan besar bagi perdagangan kita,” ujar Airlangga.

Komisioner Maroš juga menyambut baik pencapaian ini dan menyebut IEU-CEPA sebagai bagian dari strategi global Uni Eropa untuk memperkuat hubungan ekonomi dengan Asia Tenggara.

“Kami berdedikasi untuk memperkuat hubungan dengan kawasan Asia Tenggara, dan IEU-CEPA menjadi instrumen kunci untuk itu,” ucap Maroš.

Dukung Rantai Pasok Global

Selain menghapus hambatan tarif, IEU-CEPA juga dinilai strategis untuk memperkuat rantai pasok global, khususnya bahan baku penting untuk sektor industri Uni Eropa.

“Perjanjian ini akan membantu memperkuat rantai pasok bahan baku kritis yang penting bagi industri teknologi bersih dan baja Eropa. Saya menantikan penyelesaian perjanjian ini secara cepat,” ujar Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen.

Kesepakatan ini diumumkan bersamaan dengan pertemuan bilateral antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Ursula von der Leyen di Brussels, yang juga menyatakan dukungan penuh terhadap penyelesaian IEU-CEPA.

Disepakati di Brussels oleh Prabowo dan Von der Leyen

Penyelesaian tahap akhir IEU-CEPA diumumkan secara resmi dalam pertemuan bilateral antara Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen di Brussels, Belgia.

Keduanya menegaskan kembali komitmen untuk memperkuat kemitraan strategis antara Indonesia dan Uni Eropa, termasuk mendorong percepatan finalisasi perjanjian ini.

“Indonesia dan Uni Eropa telah mencapai kesepakatan politik yang menjadi fondasi bagi penyelesaian perundingan IEU-CEPA dalam waktu dekat,” ujar von der Leyen.

Selama hampir satu dekade, perundingan IEU-CEPA telah melalui 19 putaran formal serta berbagai sesi antartim teknis. Dari pihak Indonesia, koordinasi teknis dilakukan oleh Direktorat Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional, Kementerian Perdagangan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Antara