Rupiah Berisiko Tertekan, Analis Prediksi Melemah ke Rp 16.500 per Dolar AS
Nilai tukar rupiah diperkirakan melanjutkan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (1/8), dipicu oleh data ekonomi AS yang masih kuat.
Pengamat mata uang Ariston Tjendra menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah salah satunya datang dari data inflasi AS, khususnya Core PCE Price Index bulan Juni yang dirilis tetap tinggi.
Core PCE Price Index (Core Personal Consumption Expenditures Price Index) adalah indeks harga yang mengukur perubahan rata-rata harga barang dan jasa konsumsi yang dibeli oleh masyarakat, tidak termasuk harga makanan dan energi karena kedua komponen cenderung berfluktuasi tinggi.
“Core PCE Price Index secara tahunan naik 2,8%, tidak berubah dari bulan sebelumnya dan lebih tinggi dari ekspektasi pasar,” ujar Ariston kepada Katadata.co.id, Jumat (1/8).
Ia menambahkan, data klaim tunjangan pengangguran mingguan AS juga dirilis lebih baik dari perkiraan. Jumlah klaim tercatat 218 ribu, lebih rendah dari ekspektasi sebesar 222 ribu.
“Data ini memperkuat kemungkinan The Fed belum akan menurunkan suku bunga dalam waktu dekat, sehingga mendukung penguatan dolar AS,” katanya.
Dengan kondisi ini, Ariston memperkirakan rupiah berpotensi bergerak di kisaran Rp 16.350 hingga Rp 16.500 per dolar AS hari ini.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka melemah ke level Rp 16.496 per dolar AS, turun 40 poin atau 0,24% dibanding penutupan sebelumnya.
Senada, Analis Doo Financial Futures Lukman Leong juga memperkirakan pelemahan rupiah akan berlanjut seiring sentimen positif terhadap dolar AS.
“Dolar AS masih menguat setelah data klaim pengangguran yang lebih kuat dari perkiraan. Investor juga menanti data non-farm payrolls (NFP) malam ini yang diperkirakan masih solid,” kata Lukman.
Ia memproyeksikan rupiah bergerak di rentang Rp 16.400 hingga Rp 16.550 per dolar AS pada perdagangan hari ini.