Menkeu Purbaya Rajin Sidak ke Bank hingga Bandara, Apa Saja Hasilnya?

ANTARA FOTO/Nirza/agr/sg
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (kanan) melihat produksi rokok Sigaret Kretek Tangan (SKT) di Kawasan Industri Hasil Tembakau (KIHT) di Desa Megawon, Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Jumat (3/10/2025). Dalam kunjungannya Purbaya Yudhi Sadewa berkunjung di KIHT Kudus untuk melihat langsung produksi rokok dan mendengarkan aspirasi para pelaku usaha dan berkomitmen memberantas peredaran rokok ilegal.
7/10/2025, 17.04 WIB

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa baru sebulan menjabat, namun sudah aktif melakukan inspeksi mendadak alias sidak ke berbagai lembaga. Langkah ini ia lakukan tak lama setelah menerbitkan kebijakan penempatan uang negara sebesar Rp200 triliun di perbankan.

Ada dua bank milik negara yang lebih dulu ia sambangi, yakni Bank Negara Indonesia (BNI) pada Senin (29/9), dan Bank Mandiri pada Senin (6/10). Tak hanya menyidak bank, di hari yang sama Purbaya juga meninjau Bandara Soekarno-Hatta untuk memantau kinerja Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

Memastikan Penempatan Uang Negara

Menurut Purbaya, kunjungannya ke BNI dan Bank Mandiri bertujuan memastikan penempatan uang negara di dua bank itu berjalan optimal. Pemerintah menempatkan masing-masing Rp55 triliun di kedua bank tersebut.

Menurut Purbaya, penyaluran likuiditas melalui BNI berjalan cukup baik dan mencakup berbagai jenis kredit. “Sepertinya kredit mereka tersebar ke berbagai sektor, dan ditargetkan naik tahun ini dibanding sebelumnya,” ujarnya.

Ia menambahkan, sebelumnya BNI sempat mengalami perlambatan dalam penyaluran kredit. Namun, tambahan likuiditas dari pemerintah diharapkan mampu mendorong pertumbuhan kredit yang lebih tinggi.

“Tahun depan bisa double digit (penyaluran kredit) di atas 11%, kata mereka. Tapi saya kejar dua bulan lagi. Kalau terlalu lemah, kita ambil lagi itunya (dananya),” kata Purbaya.

Purbaya menegaskan, dirinya ingin memastikan penyaluran dana pemerintah tetap sesuai aturan dan tidak mengganggu stabilitas ekonomi nasional.

Likuiditas di Bank Mandiri Terserap 70%

Saat meninjau Bank Mandiri, Purbaya juga menemukan hasil serupa. Ia mengatakan, uang pemerintah sudah terserap 60%–70% ke sektor riil melalui penyaluran kredit, dan pihak bank berpotensi meminta tambahan dana untuk memperluas pembiayaan.

“Mungkin mereka minta lagi, kalau bisa ada tambahan yang bisa disalurkan ke sektor yang lain, mungkin ke sektor properti dan otomotif,” ujarnya.

Ia pun optimistis, kebijakan penempatan dana pemerintah di perbankan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi. “Hasilnya positif. Stimulus saya berjalan. Di triwulan keempat, ekonomi bisa tumbuh di atas 5,5%,” kata Purbaya.

Dalam satu bulan pelaksanaan kebijakan itu, pertumbuhan kredit di Bank Mandiri meningkat dari 8% menjadi hampir 11%, yang menunjukkan efek positif terhadap penyerapan dana.

Sidak Bea Cukai Soetta: Temukan HP Tanpa IMEI

Selain ke perbankan, Purbaya juga melakukan sidak ke Bandara Soekarno-Hatta untuk meninjau kinerja Ditjen Bea dan Cukai. Ia didampingi oleh Kepala Bea Cukai Bandara Soekarno-Hatta Gatot Sugeng Wibowo dan Kepala Kantor Imigrasi Soekarno-Hatta Galih Priya Kartika Perdhana.

Melalui akun Instagram @menkeuri, Purbaya menyampaikan harapannya agar Bea Cukai terus meningkatkan pelayanan dan memperkuat perannya dalam mendukung arus barang dan daya saing ekonomi nasional.

“Bea Cukai harus terus mengoptimalkan pelayanan kepada masyarakat dan memperkuat peran strategisnya dalam mendukung kelancaran arus barang dan daya saing ekonomi nasional,” tulisnya.

Dalam kunjungan itu, Purbaya menemukan sejumlah ponsel tanpa International Mobile Equipment Identity (IMEI), baik merek iPhone maupun Android.

“Android juga sama banyaknya di situ, ada sekitar 80 unit sehari. Nggak banyak-banyak, tapi proses pendaftarannya cepat,” ujarnya di Gedung Kemenkeu, Selasa (7/10).

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Rahayu Subekti