Cadangan Devisa RI Anjlok jadi US$ 148,7 Miliar, Terendah Sejak Juli 2024

ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/foc.
Suasana bongkar muat peti kemas di Terminal Peti Kemas Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, Jawa Tengah, Senin (14/4/2025). Bank Indonesia (BI) mencatat posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Maret 2025 tercatat sebesar 157,1 miliar dolar Amerika Serikat (AS), meningkat dibandingkan posisi pada akhir Februari 2025 sebesar 154,5 miliar dolar AS.
8/10/2025, 10.47 WIB

Cadangan devisa Indonesia turun menjadi US$ 148,7 miliar pada September 2025, turun sekitar US$2 miliar dibandingkan bulan sebelumnya. Angka ini merupakan posisi terendah sejak Juli 2024 dan menandai penurunan selama tiga bulan berturut-turut, dengan total penyusutan mencapai US$ 7,3 miliar sejak awal tahun.

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto menjelaskan, penurunan ini terutama disebabkan oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah sebesar US$150 juta, serta intervensi Bank Indonesia (BI) di pasar valas dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) untuk menstabilkan nilai tukar rupiah.

“Rupiah sempat menembus Rp16.700 per dolar AS akibat penguatan dolar dan lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS (UST) setelah Bank Sentral AS (The Fed) menurunkan suku bunga,” ujar Rully dalam laporan Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rabu (8/10).

Langkah-langkah ini menunjukkan sikap agresif BI dalam menjaga kestabilan nilai tukar di tengah meningkatnya aliran keluar modal dan ketidakpastian global.

Aliran Modal Keluar Tekan Rupiah

Selain faktor intervensi BI, penurunan cadangan devisa juga mencerminkan keluarnya dana asing dari pasar keuangan domestik. Pada September 2025, pasar obligasi Indonesia mencatat net outflow sebesar Rp45,8 triliun (sekitar US$2,8 miliar) atau terbesar sepanjang tahun ini.

“Tekanan aliran keluar modal memperburuk pelemahan rupiah dan mendorong BI untuk semakin gencar melakukan intervensi demi menjaga stabilitas pasar keuangan,” kata Rully.

Ia menambahkan, penurunan cadangan devisa juga tampak pada rasio cadangan terhadap impor yang melemah, menandakan ketahanan eksternal Indonesia relatif menurun dibandingkan negara berkembang lain.

Ruang Kebijakan BI Makin Terbatas

Menurut Rully, penurunan berkelanjutan cadangan devisa mengindikasikan semakin sempitnya ruang kebijakan moneter bagi BI di tengah tekanan eksternal yang tinggi.

“Dengan pemerintah dan BI masih berfokus pada kebijakan pro-pertumbuhan, stabilitas rupiah bisa kembali tertekan, terutama jika penurunan suku bunga membuat aset rupiah kurang menarik,” katanya.

Dalam kondisi ini, Rully memperkirakan BI akan tetap proaktif menjaga stabilitas keuangan, baik melalui operasi likuiditas maupun pemanfaatan strategis cadangan devisa. BI juga diperkirakan melanjutkan kebijakan triple-intervention di pasar spot, DNDF, dan pasar obligasi pemerintah.

“Langkah-langkah ini penting untuk menekan volatilitas berlebihan pada nilai tukar dan menjaga kepercayaan investor di tengah pelonggaran kebijakan moneter,” kata Rully.

BI Pastikan Cadangan Devisa Tetap Kuat

Meski menyusut, BI memastikan cadangan devisa RI pada September 2025 tetap kuat. Khususnya untuk mendukung stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

“Posisi cadangan devisa akhir September 2025 tersebut setara dengan pembiayaan 6,2 bulan impor atau 6,0 bulan impor,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan resmi, Selasa (7/10).

Ia menambahkan, posisi tersebut juga setara dengan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Selain itu juga berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Ke depan, BI meyakini ketahanan sektor eksternal tetap kuat. Hal tersebut sejalan dengan prospek ekspor yang tetap terjaga serta neraca transaksi modal dan finansial yang diperkirakan tetap mencatatkan surplus.

“Ini sejalan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian domestik dan imbal hasil investasi yang tetap menarik,” ujarnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ferrika Lukmana Sari, Rahayu Subekti