Ekonom Waspadai Gaya Komunikasi Koboi Purbaya, Bisa Picu Ketidakpastian Pasar

Katadata/Fauza Syahputra
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyapa wartawan sebelum menyampaikan pemaparan pada konferensi pers APBN KiTa di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (22/9/2025). Kementerian Keuangan mencatat defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) per Agustus 2025 mencapai Rp 321,6 triliun atau 1,35% dari produk domestik bruto (PDB).
27/10/2025, 17.30 WIB

Gaya komunikasi Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang lugas, ceplas-ceplos, bahkan kadang konfrontatif, kian menjadi sorotan. Julukan “Menteri Koboi” yang melekat pada dirinya menggambarkan keberanian dalam berbicara.

Publik banyak yang menyukai gaya komunikasinya, namun para ekonom menyoroti sisi lain yang patut diwaspadai. Gaya ini bisa mempertegas arah fiskal, tetapi juga berpotensi menimbulkan ketidakpastian hingga keraguan di pasar.

Gaya Lugas Bikin Pasar Waspada

Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet, menilai gaya komunikasi Purbaya memberi kesan transparan, lugas, dan berani. Namun, dari kacamata ekonomi, ada dilema di balik keberaniannya.

“Di satu sisi, ia memotong jarak dengan publik dan menunjukkan ketegasan dalam menjaga fiskal. Di sisi lain, pasar dan investor menilai komunikasi pemerintah bukan dari keberanian retorik, tapi dari konsistensi dan prediktabilitasnya,” ujar Yusuf kepada Katadata.co.id, Senin (27/10).

Yusuf menjelaskan reaksi pasar sejauh ini bercampur dan membuat pasar waspada. Komentar spontan Purbaya beberapa kali memicu volatilitas jangka pendek di rupiah dan IHSG.

“Artinya, bukan gaya koboinya yang dipermasalahkan, melainkan ketidakseimbangan antara gaya verbal dan substansi kebijakan,” kata Yusuf.

Menurutnya, gaya komunikasi seperti ini hanya efektif bila dibarengi kredibilitas teknis dan konsistensi pesan lintas lembaga. Tanpa itu, pernyataan keras justru memperbesar policy uncertainty.

“Jadi, gaya koboi Menteri Keuangan untuk beberapa kalangan menjadi disukai karena straight to the point, namun bagi investor yang menghargai kepastian, ini menjadi hal yang perlu diperhatikan kembali,” ujar Yusuf.

Rentan Overconfident

Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin melihat Purbaya sebagai sosok tanpa beban masa lalu, memberi ruang besar untuk inovasi. Keputusannya soal cukai rokok, pembenahan shadow economy dan penempatan dana besar di perbankan mencerminkan keberanian eksekusi.

Namun, Wijayanto mengingatkan adanya kecenderungan O3 yaitu overconfident, overpromised, dan oversimplify. Hal ini tercermin dalam beberapa pernyataannya, misalnya menyalahkan BI terkait isu likuiditas perekonomian dan menyatakan ekonomi akan membaik dalam tiga bulan.

Ia juga menolak pemanfaatan APBN sebagai solusi utang Whoosh, serta mengeluarkan pernyataan serupa lainnya. “Statement terkait dana ratusan triliun milik pemda yang menganggur di bank juga kurang akurat, dan masih banyak lagi,” ujar Wijayanto.

Ia menilai Purbaya rasional dan mau belajar, sehingga masyarakat melihatnya positif, sementara elit menilai secara kritis. Namun pengusaha dan investor terbelah.“Sebagian besar menunggu realisasi dari apa yang dijanjikan dan sedang dikerjakan,” kata Wijayanto.

Gaya komunikasi ini membuat pasar merasa hopeful, namun efektivitasnya sangat bergantung pada realisasi janji-janji Purbaya.

Pasar Modal Naik, Rupiah Tertekan

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyoroti efek berbeda di pasar. “Bagi pasar modal ini positif, tapi bagi rupiah ini negatif,” kata Ibrahim.

Penguatan saham perbankan pasca-penempatan dana pemerintah di Himbara sempat mendongkrak IHSG di atas 8.000. Namun rupiah melemah hingga menembus Rp 16.700 per dolar AS, bahkan sempat dikhawatirkan menuju Rp 17.000 per dolar AS.

“Sebagai barometer utama ekonomi, rupiah lebih penting dijaga. Sementara itu, pasar modal bersifat spekulatif,” ujar Ibrahim.

Ia menekankan, stabilitas nilai tukar adalah ranah Bank Indonesia, sehingga komunikasi Purbaya yang terlalu sering menyentuh isu moneter dapat menimbulkan noise di pasar.

“Yang dilakukan Purbaya itu administratif, sehingga berdampak pada keluarnya dana asing di Indonesia. Pasar modal menguat tetapi rupiahnya melemah,” kata Ibrahim.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Rahayu Subekti