Rupiah Melemah di Saat IHSG Tumbang, Pasar Keuangan Tertekan
Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), pada Kamis (29/1) pagi. Para pelaku pasar memperkirakan pelemahan terhadap rupiah dan anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akibat pengumuman MSCI akan menekan pasar keuangan dalam jangka pendek.
Mengutip data Bloomberg, pagi ini rupiah berada di level Rp 16,792 per dolar AS, melemah 70 poin atau 0,42% dari penutupan terakhir Rp 16.768 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong sebelumnya memperkirakan, rupiah akan melemah terhadap dolar AS yang rebound setelah Gubernur The Fed Jerome Powell memberikan pernyataan yang lebih agresif (hawkish) dari harapan dalam Federal Open Market Comittee (FOMC) Meeting, Rabu (28/1).
“Investor juga mengantisipasi dan mewaspadai ekuitas domestik yg dimana terjadi sell-off kemarin,” kata Lukman kepada Katadata.co.id, Kamis (29/1).
Di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG kembali dibuka anjlok. Indeks rontok hingga 8% meninggalkan levek 8.000 pada pembukaan perdagangan hari ini, Kamis (29/1).
Sentimen pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) soal hasil penilaian terkait perubahan metodologi perhitungan porsi saham publik atau free float di pasar saham Indonesia masih membayangi laju IHSG.
Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali memberlakukan penghentian sementara perdagangan atau trading halt pada perdagangan hari ini. Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG anjlok hingga 8% ke level 7.654 pada pukul 09.26 WIB.
Ini merupakan trading halt kedua yang dilakukan bursa pada 2026. Penghentian pertama dilakukan bursa pada perdagangan kemarin, Rabu (28/1) pukul 13.43 WIB.
BEI saat ini menetapkan trading halt akan dilakukan selama 30 menit jika IHSG turun lebih dari 8% dalam satu hari perdagangan
Jika penurunan berlanjut hingga lebih dari 15%, maka akan diberlakukan trading halt tambahan selama 30 menit.
Adapun volume yang diperdagangkan tercatat 13 miliar dengan nilai transaksi Rp 10,86 triliun dan kapitalisasi pasar menjadi Rp 13.861 triliun. Hanya 33 perusahaan yang naik, 658 anjlok, dan 20 perusahaan tak bergerak.
Volatilitas Bertahan dalam Jangka Pendek
Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan potensi volatilitas IHSG dalam jangka pendek masih tetap tinggi seiring penyesuaian yang dilakukan para pelaku pasar terhadap pengumuman MSCI. Pada Rabu (28/1), investor asing mencatat penjualan bersih Rp 6,2 triliun yang terkonsentrasi pada saham-saham perbankan dengan kapitalisasi pasar besar.
Investor asing mencatatkan penjualan bersih sangat besar di PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp 4,1 triliun, disusul PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) masing-masing sekitar Rp 1,3 triliun dan Rp 1,1 triliun, sehingga menekan IHSG dan memicu trading halt.
"Kami memandang volatilitas IHSG berpotensi tetap tinggi dalam jangka pendek, seiring pasar melakukan re-pricing atas risiko terkait pengumuman pembekuan sementara MSCI terhadap indeks saham Indonesia," kata Rully dalam risetnya.
Kebijakan ini juga meningkatkan kekhawatiran investor global terhadap risiko jangka menengah, terutama potensi penurunan bobot Indonesia di MSCI Emerging Market maupun skenario downgrade ke frontier yang dapat mendorong keluarnya dana investor asing.
Di sisi lain, BEI bersama otoritas terkait akan “mengerahkan segala upaya” dan intens berdiskusi dengan MSCI untuk membenahi data free float dan transparansi kepemilikan, sejalan dengan kepentingan nasional untuk mempertahankan status Indonesia sebagai pasar emerging dan memenuhi ketentuan minimum MSCI.