Bank Indonesia Optimis Ekonomi Indonesia Tumbuh 4,9 – 5,7% di 2026

Katadata/Fauza Syahputra
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (kelima kiri) saat meluncurkan Laporan Perekonomian Indonesia 2025 di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (28/1/2026). Laporan tersebut mengusung tema Tangguh dan Mandiri: Sinergi Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Lebih Tinggi dan Berdaya Tahan.
2/2/2026, 06.46 WIB

Bank Indonesia (BI) meluncurkan Laporan Perekonomian Indonesia (LPI) 2025 sebagai refleksi kondisi ekonomi nasional, sekaligus rujukan kebijakan di tengah dinamika dan ketidakpastian global.

Perumusan arah kebijakan ekonomi ke depan menuntut pembelajaran dari kinerja masa lalu, pembacaan kondisi terkini, serta pemahaman menyeluruh terhadap arah kebijakan.

Peluncuran LPI 2025 juga menegaskan komitmen kredibilitas dan akuntabilitas bank sentral, sebagaimana diamanatkan dalam UU No.4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK).

Mengusung tema “Tangguh dan Mandiri: Sinergi Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Lebih Tinggi dan Berdaya Tahan”, Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan, LPI 2025 merumuskan konsep Optimisme, Komitmen, dan Sinergi (OKS).

Konsep OKS ditujukan untuk membangun keyakinan terhadap prospek ekonomi Indonesia sekaligus memperkuat kolaborasi lintas kebijakan antarotoritas dan pemangku kepentingan.

“Melalui Laporan Perekonomian Indonesia 2025 kami mengajak semua membangun optimisme. Setelah melewati 2025 dengan kinerja yang baik, yakinlah insya Allah tahun 2026 dan 2027 ekonomi Indonesia akan lebih baik lagi,” ujar Perry saat peluncuran LPI 2025 di kantor BI, Jakarta, Rabu (28/01/2026).

Ekonomi 2025 Tetap Solid di Tengah Gejolak Global

Perry menilai kinerja perekonomian Indonesia sepanjang 2025 tetap solid kendati dihadapkan pada tingginya gejolak ekonomi dan geopolitik global.

“Kita patut bersyukur bahwa perekonomian Indonesia pada tahun 2025 menunjukkan ketahanan ekonomi yang kuat di tengah tingginya gejolak ekonomi dan geopolitik global,” ujarnya.

Menurutnya, Indonesia menjadi salah satu negara dengan kinerja terbaik di kelompok Emerging Market Economies (EMEs). Pertumbuhan ekonomi relatif tinggi, stabilitas makroekonomi terjaga, inflasi berada dalam sasaran 2,5±1 persen, serta nilai tukar rupiah tetap terkendali berkat komitmen dan sinergi kebijakan dalam menjaga stabilitas.

Dari sisi sistem keuangan, perbankan dinilai tetap sehat dengan permodalan yang kuat dan rasio kredit bermasalah yang rendah.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo (Foto: Katadata/Fauza Syahputra)

BI mencatat, capaian positif tersebut merupakan hasil kerja kolektif melalui sinergi erat antara BI, pemerintah pusat dan daerah, serta berbagai otoritas terkait. Untuk menjaga momentum, seluruh bauran kebijakan BI sepanjang 2025 terus diperkuat guna mendorong pertumbuhan ekonomi dengan tetap menjaga stabilitas, sejalan dengan program Asta Cita pemerintah.

Sejumlah langkah strategis ditempuh, antara lain penurunan BI-Rate hingga 125 bps selama tahun 2025 menjadi 4,75% di bulan Desember 2025, yang merupakan level terendah sejak tahun 2022. BI juga terus menjalankan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah sebagai upaya menjaga ketahanan eksternal di tengah ketidakpastian global.

Di samping itu, ekspansi likuiditas moneter diperluas melalui strategi operasi moneter pro-market, termasuk pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Dalam sesi seminar nasional, Deputi Gubernur BI, Aida S. Budiman turut menekankan, BI menyalurkan insentif likuiditas makroprudensial (KLM) untuk mendorong pembiayaan ke sektor prioritas. Akselerasi digitalisasi sistem pembayaran dinilai turut menopang efisiensi, produktivitas, dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

“BI terus mendorong ekonomi, sementara moneter harus tetap balance antara stabilitas dan pertumbuhan ekonomi,” imbuhnya.

Pelajaran Dari 2025 untuk Menjaga Momentum Pertumbuhan Ekonomi

Perry menilai ketahanan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 memberikan tiga pelajaran utama. Pertama, konsistensi kebijakan makroekonomi yang berhati-hati menjadi pilar utama stabilitas dan pertumbuhan berkelanjutan.

Kedua, kebijakan tersebut harus ditopang sinergi kuat antara BI, pemerintah pusat dan daerah, serta Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).

Ketiga, keberhasilan kebijakan memerlukan kombinasi kepemimpinan profesional, kompetensi perumusan kebijakan (book smart), pengalaman implementasi lapangan (street smart), serta integritas dan akhlak yang kokoh (spiritual smart).

Pelajaran tersebut bisa menjadi modal yang kuat untuk mendorong perekonomian nasional di tengah ketidakpastian global.

“Bank Indonesia berkomitmen, we will do our best untuk menjaga stabilitas dan juga mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Sinergi stabilitas, sinergi untuk hilirisasi industrialisasi, sinergi ekonomi kerakyatan, hingga sinergi pembiayaan,” jelas Perry.

Pada tahun 2026, BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 4,9–5,7 persen dan meningkat ke kisaran 5,1-5,9 persen pada 2027. Inflasi diproyeksikan tetap terkendali di sekitar 2,5±1 persen, sementara pertumbuhan kredit didorong mencapai 8-12 persen pada 2026 dan 9-13 persen pada 2027.

Adapun transaksi QRIS pada tahun ini ditargetkan mencapai 17 miliar transaksi dengan sekitar 60 juta pengguna, termasuk 45 juta pelaku UMKM. QRIS juga akan diperluas ke delapan negara, setelah sebelumnya terhubung dengan Malaysia, Thailand, Singapura, Jepang, China, Korea, India, dan Arab Saudi.

Di bidang sistem pembayaran, BI juga terus mendorong digitalisasi domestik dan lintas negara melalui konsolidasi industri, penguatan infrastruktur BI-FAST, serta pengembangan talenta digital.

BI, bahkan akan menyelenggarakan kompetisi digital yang melibatkan 800 tim talenta muda untuk dididik selama enam bulan.

Dengan kombinasi optimisme, kehati-hatian, dan sinergi lintas kebijakan, BI menilai fondasi ekonomi nasional cukup kuat untuk menghadapi ketidakpastian global sekaligus membuka ruang pertumbuhan yang lebih tinggi dan berkelanjutan ke depan.

“Kita harus tetap optimis sekaligus Eling lan Waspodo di tengah gejolak yang masih akan terus berlanjut,” tutup Perry.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.