Barang Impor Cina Serbu RI, Defisit Perdagangan Melonjak di Tengah Perang Dagang

ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/YU
Pengunjung mendapatkan informasi tentang fitur mobil listrik BYD Sealion 7 yang dipamerkan pada Indonesia International Motor Show (IIMS) 2025. Kendaraan menjadi salah satu komponen impor yang mengalami lonjakan paling besar pada tahun lalu.
Penulis: Ade Rosman
Editor: Agustiyanti
2/2/2026, 14.52 WIB

Badan Pusat Statistik mencatat defisit neraca perdagangan Indonesia dengan Cina membengkak pada tahun lalu dari US$ 11,11 miliar pada 2024 menjadi US$ 20,5 miliar. Hal ini, terutama disebabkan impor nonmigas yang melonjak dari US$ 72,75 miliar menjadi US$ 86,89 miliar.

“Peningkatan nilai impor terjadi dengan Cina dan Amerika Serikat. Sementara itu impor dari Jepang, negara ASEAN, dan juga Uni Eropa mengalami penurunan,” ujar Deputi Bidang Distribusi dan Jasa, Ateng Hartono dalam konferensi pers di Kantor BPS, Jakarta, Senin (2/2).

Ia menjelaskan, kenaikan impor dari Cina terutama terjadi pada komponen mesin dan peralatan elektrik yang melonjak 30% mencapai US$ 19,5 miliar. Lonjakan juga terjadi pada impor kendaraan dan bagiannya yang mencapai 56% menjadi US$ 5,66 miliar.  Sedangkan impor mesin dan peralatan mekanik naik 13,3% menjadi US$ 1974 miliar. 

BPS mencatat impor Indonesia secara keseluruhan peningkatan sebanyak US$ 241,86 miliar atau naik 2,83 persen dibandingkan 2024. Impor migas tercatat turun 9,97% menjadi US$ 32,77 miliar, sedangkan impor nonmigas naik 5,11% menjadi US$ 209,69 miliar.

Cina menempati posisi tiga besar negara asal impor sektor nonmigas sepanjang Januari-Desember 2025, setelah  Jepang dan AS. Ketiga negara ini menjadi sumber dari 53,20% dari total impor nonmigas di Indonesia selama periode Januari-Desember 2025.

Adapun impor nonmigas dari Jepang tercatat mencapai US$ 14,42 miliar yang didominasi oleh impor mesin dan peralatan mekanis dengan kontribusi mencapai  21,54% dan tumbuh 2,74% dibandingkan 2025.

Sedangkan impor nonmigas dari Amerika Serikat sebesar US$ 9,84 didominasi impor mesin dan peralatan mekanis dengan kontribusi 18,56% dan pertumbuhan mencapai 18.81%. 

Cina juga menjadi penyumbang defisit terdalam bagi Indonesia sebesar US 20,50 miliar. "Kemudian Australia. Australia itu sebesar negatif US$ 5,65 miliar, dan Singapura juga, ini defisit atau negatif sebesar US$ 5,47 miliar,” kata dia.

Selain itu, Cina juga termasuk ke dalam tiga negara penyumbang defisit pada neraca perdagangan kelompok nonmigas, yaitu sebesar minus US$ 22,17 miliar. Kemudian Australia, yaitu minus US$ 4,88 miliar, dan Brazil sebesar minus US$ 1,76 miliar.

Komoditas yang menyumbang defisit perdagangan terbesar antara Indonesia dan Cina adalah  komoditas mesin dan peralatan mekanik serta bagiannya. Sedangkan defisit perdagangan dengan Australia disumbang oleh gandum dan bahan bakar minera. 

"Defisit di Brazil terbesar disumbang oleh komoditi ampas dan sisa industri makanan yaitu HS 23, kemudian juga dari komoditi gula dan kembang gula yaitu HS 17 dan juga dari komoditi kapas." kata dia.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ade Rosman