Purbaya Tak Khawatir Moody's Pangkas Outlook: Ekonomi Bagus, Defisit Terkendali

ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/bar
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bersiap mengikuti Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (20/10/2025). Sidang kabinet paripurna yang bertepatan dengan setahun masa pemerintahan Presiden Prabowo dan Wapres Gibran tersebut membahas realisasi pada 2025 dan rencana kerja pada 2026 terkait program kerja Kabinet Merah Putih di sejumlah bidang, dari ekonomi, bidang pangan, energi, pemberantasan kemiskinan, hingga pembangunan SDM.
Penulis: Ade Rosman
Editor: Agustiyanti
6/2/2026, 15.54 WIB

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku tak Khawatir meski lembaga pemeringkat kredit Moody’s Ratings mengubah outlook peringkat utang Pemerintah Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil. Ia yakin Moody's dapat berubah pikiran jika melihat data pertumbuhan ekonomi sebelum merilis pengumuman tersebut.

“Yang saya baca itu, mereka bukan menyerang masalah defisit. Mereka takut defisit melebar. Tapi kan mereka tahu juga saya bisa kendalikan dengan baik. Mungkin mereka keluarkan itu sebelum angka pertumbuhan ekonomi dirilis,” kata Purbaya di Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (6/2). 

Purbaya beranggapan, hasilnya dapat berbeda jika Moody’s mengeluarkan pengumuman tersebut ketika angka pertumbuhan ekonomi Indonesia telah dirilis. Keyakinan Purbaya ini didasari dari kondisi fiskal yang disebutnya bergerak ke arah yang benar.

“Pertumbuhan lebih bagus, defisit masih terkendali. Kami berhasil membalikkan ekonomi dengan biaya yang relatif minimum,” katanya.

Moody’s dalam pengumumannya juga menyoroti Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) dan program Makan Bergisi Gratis (MBG). Menanggapi hal itu, Purbaya meyakini perekonomian Indonesia kedepannya akan membaik dan tumbuh lebih cepat. 

“Pertumbuhan ekonomi ke depan akan lebih cepat. Nanti saya pikir pelan-pelan Moody's akan melihat apa yang terjadi di sini dengan lebih fair,” kata dia. 

Di sisi lain, Purbaya mengatakan meskipun Moody’s meragukan program tersebut namun ia meyakini bahwa ekonomi Indonesia akan tumbuh lebih cepat. Menurutnya, dengan hal itu dapat menghilangkan keraguan yang saat ini ada. 

“Bahwa walaupun ada program seperti itu yang mereka ragukan, tapi ekonomi akan tumbuh lebih cepat. Pelan-pelan nanti keraguannya akan hilang lagi,” kata dia. 

Purbaya juga menilai tak akan ada masalah berkaitan dengan keraguan tersebut karena di sisi lain pemerintah patuh membayar utang. 

“Kan lembaga pemerintah sebenarnya menilai untuk melihat apakah kita mampu bayar utang atau mau bayar utang. Dua-duanya kita penuhin. Jadi harusnya enggak ada masalah,” katanya.

Purbaya juga menganggap hal ini tak akan berpengaruh signifikan terhadap modal asing. Menurutnya, kondisi ini hanya akan menimbulkan efek jangka pendek. 

“Ini saya pikir hanya jangka pendek saja, ya. Kalau orang yang penakut ya akan takut,” kata dia.

Terkait MBG, ia memastikan program unggulan Presiden Prabowo Subianto itu akan berjalan tepat sasaran, efektif, dan efisien.

“Itu yang akan saya lihat nanti. Jangan sampai ada pemborosan yang tidak terkontrol di sana. Itu mungkin juga khawatir di situ,” katanya. 

Tapi kan, saya sekarang boleh melihat tuh anggaran kepentingan lembaga yang lain, kata DPR. Saya akan lihat satu-satu. Nanti saya lihat yang MBG seperti apa kita koreksinya. Yang lain seperti apa.

Dan yang penting, belanja pemerintah akan kita dorong tepat sasaran, tepat waktu, dan sedikit dari kebocoran. Sedikit mengalami kebocoran, termasuk pemerintahan daerah.  

Lembaga pemeringkat kredit Moody’s Ratings Kamis (5/2) kemarin menurunkan outlook peringkat utang Pemerintah Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil. Pemangkasan outlook itu salah satunya dipicu kekhawatiran terhadap pembentukan badan pengelola dana kekayaan negara, Danantara. 

Moody’s menilai struktur tata kelola, skema pembiayaan, serta prioritas investasi Danantara belum jelas. Dalam pengumumannya, Moody’s juga menjelaskan perubahan outlook Indonesia menjadi negatif di tengah upaya pemerintah mempercepat pertumbuhan ekonomi.  

Menurut Moody’s, dalam setahun terakhir terjadi penurunan prediktabilitas dan kohesi dalam proses pengambilan kebijakan, disertai komunikasi kebijakan yang kurang efektif. Kondisi ini dinilai meningkatkan risiko terhadap kredibilitas kebijakan Indonesia di mata investor, tercermin dari meningkatnya volatilitas pasar saham dan valuta asing.  

Perkembangan tersebut juga sejalan dengan penurunan skor Indonesia dalam indikator tata kelola global, khususnya terkait efektivitas pemerintah dan kualitas regulasi. Menurut Moody’s, apabila kondisi ini terus berlanjut, melemahnya kekompakan dan kredibilitas kebijakan bisa menunjukkan turunnya kekuatan institusi pemerintah. Dampaknya, ekonomi dan keuangan negara bisa terganggu karena minat investor menurun dan biaya pinjaman menjadi lebih mahal.

Selain itu, Moody’s juga menyoroti ekspansi program sosial seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan perumahan untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Sampai sejauh ini, program-program unggulan Presiden Prabowo Subianto itu dibiayai melalui realokasi dan pemangkasan belanja kementerian, termasuk anggaran pemeliharaan infrastruktur. Ekspansi lanjutan program-program tersebut dinilai dapat menekan fleksibilitas anggaran negara.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ade Rosman