Menunggu Kerja Makin Mahal, CELIOS Ungkap Tekanan Ganda Gen Z

ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/nz
Ilustrasi.
Editor: Agustiyanti
24/2/2026, 11.39 WIB

Peneliti Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Mohammad Bakhrul Fikri mengungkapkan tingginya beban yang harus ditanggung generasi Z dalam mencari pekerjaan. 

Berdasarkan olahan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2025 dari Badan Pusat Statistik (BPS), Gen Z usia 19–29 tahun menghadapi kesenjangan antara lamanya waktu mencari kerja dan besarnya biaya yang dibutuhkan hingga memperoleh pekerjaan. 

“Di sini ada kesenjangan antara durasi mencari kerja sejak mereka lulus pendidikan tertinggi, kemudian berapa kebutuhan biaya sampai mereka mendapatkan kerja. Menariknya, durasi mencari kerja yang tinggi tidak selalu berarti kebutuhan biayanya juga paling tinggi,” ujar Fikri dalam konferensi pers, Senin (23/2).

Berdasarkan data tersebut, Papua mencatat durasi mencari kerja rata-rata 35 bulan, dengan kebutuhan biaya mencapai Rp 155,3 juta, tertinggi secara nasional. 

Maluku menyusul dengan durasi 26 bulan dan kebutuhan biaya Rp 80,5 juta. Lalu Kalimantan Utara  selama 21 bulan dengan biaya Rp78,4 juta dan Papua Barat Daya selama 21 bulan dengan biaya Rp81,8 juta yang juga menunjukkan kombinasi waktu tunggu panjang dan biaya tinggi. 

Papua Barat mencatat 19 bulan dengan kebutuhan Rp70,8 juta, sedangkan Sulawesi Barat 19 bulan dengan Rp50,5 juta.

Namun, durasi tidak selalu sejalan dengan biaya Fikri mencontohkan, Papua Tengah, yang durasi mencari kerjanya rata-rata 13 bulan membutuhkan kebutuhan biayanya mencapai Rp 61,9 juta, lebih tinggi dibanding Bengkulu dengan 13 bulan dan Rp 37,9 juta. Lalu Sumatera Utara  dengan durasi 13 bulan membutuhkan Rp 36,3 juta, sedangkan  Sulawesi Tenggara dengan durasi 13 bulan membutuhkan Rp 41 juta.

Hal serupa terjadi di Jawa Barat, dengan durasi 13 bulan dan kebutuhan biaya Rp47,9 juta.

 Di DKI Jakarta, durasi mencari kerja rata-rata 8 bulan sama seperti Jawa Tengah dam Jawa Timur. Namun kebutuhan biaya di DKI Jakarta mencapai Rp39,8 juta, hampir dua kali lipat Jawa Tengah sebesar Rp 20,7 juta  dan Jawa Timur sebesar 22,7 juta

“Jadi mereka membutuhkan uang untuk bertahan hidup sampai mendapatkan kerja itu sekitar Rp39,8 juta. Angka ini dihitung dari rata-rata kebutuhan biaya berdasarkan rata-rata upah pekerja di setiap provinsi yang dipaparkan BPS,” kata Fikri.

Fikri menilai kondisi ini mencerminkan ketimpangan struktur regional yang masih tinggi. Ia menyebut adanya fenomena “resource rich but elasticity poor”, yakni daerah kaya sumber daya alam namun memiliki elastisitas penyerapan tenaga kerja yang rendah.

“Di beberapa wilayah yang sangat melimpah sumber daya alamnya, justru sangat kecil untuk menyerap tenaga kerja,” ujarnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah