Aceh Catat Inflasi Tertinggi pada Februari, Gara-Gara Tarif Listrik hingga Beras

ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/YU
llustrasi
Penulis: Ade Rosman
Editor: Agustiyanti
2/3/2026, 16.59 WIB

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, Aceh menjadi provinsi dengan inflasi tertinggi pada Februari  2026. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik BPS Ateng Hartono menuturkan, inflasi Aceh mencapai 6,9%, sedangkan inflasi di Papua Pegunungan yang menjadi inflasi terendah tercatat sebesar 0,63%.

“Jadi tiga komoditi yang menjadi penyumpang inflasi di Aceh, yaitu listrik, emas perhiasan dan juga beras,” kata Ateng dalam konferensi pers, Senin (2/3). 

Ia menjelaskan, tarif listrik memberikan andil inflasi sebesar 2,19%, emas perhiasan 0,99%, dan beras sebesar 0,85%.

Secara keseluruhan, BPS mencatat inflasi Indonesia pada Februari 2026 sebesar 4,76% secara tahunan atau year on year. Terjadi kenaikan indeks harga konsumen dari 105,48 pada Februari 2025 menjadi 110,50 pada Februari 2026. 

Ateng mencatat, inflasi yang tinggi secara tahunan ini dipengaruhi oleh adanya low base effect

“Inflasi yang tinggi secara year on year dipengaruhi oleh adanya low base effect. Pada januari februari 2026 pemerintah menerapkan kebijakan diskon tarif listrik yang menekan IHK Januari dan Februari,” kata Ateng.

Ia menjelaskan, penyumbang utama inflasi di Februari 2026 secara tahunan adalah kelompok perumahan air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga dengan andil inflasi 2,26%.

“Komoditas penyumbang utama inflasi pada kelompok ini terutama tarif listrik dan biaya sewa rumah. Khusus tarif listrik dorongan inflasinya karena tarif listrik kembali normal setelah mengalami diskon 50% pada februari 2025 lalu,” kata dia. 

Selain itu, terdapat komoditas yang masih memberikan andil deflasi pada Februari 2026, yaitu bensin dengan andil deflasi 0,05 persen.  

Berdasarkan komponen, inflasi bulan Februari 2026 utamanya didorong oleh inflasi komponen bergejolak dengan andil inflasi 0,41 persen. 

Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi adalah daging ayam ras, cabai rawit, dan cabai merah. Selanjutnya, komponen inti memberikan andil inflasi sebesar 0,27 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi pada kelompok ini adalah emas perhiasan, minyak goreng, mobil dan nasi dengan lauk. 

Sementara itu, untuk komponen harga diatur pemerintah mengalami deflasi sebesar 0,03 persen dengan andil inflasi hampir 0 persen. Namun demikian, terdapat komoditas yang dominan memberikan andil deflasi pada komponen ini yaitu bensin.  

Menurut wilayah, secara bulanan tercatat 33 provinsi mengalami inflasi, sedangkan 5 provinsi lainnya mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Sulawesi Selatan sebesar 1,04 persen. Adapun deflasi terdalam terjadi di Papua Barat sebesar 0,65 persen. 

”Tingkat inflasi Februari 2026 yang bertepatan dengan momen Ramadan ini masih lebih rendah dibandingkan momen Ramadan 2022 (April 2022) dan Ramadan 2025 (Maret 2025),” kata Ateng.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ade Rosman