Bappenas Sebut Indonesia Perlu Belajar dari Vietnam untuk Dongkrak Ekonomi
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Rachmat Pambudy menilai Indonesia perlu belajar dari perkembangan pesat Vietnam dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan transformasi industri.
Menurut Rachmat, pada masa lalu, Vietnam justru banyak mempelajari pengalaman Indonesia, khususnya ketika Tanah Air berhasil mencapai swasembada pangan dan melakukan transformasi sektor pertanian.
“Pernah ada masa ketika pengalaman Indonesia dalam mencapai swasembada pangan menarik perhatian di kawasan. Vietnam termasuk salah satu negara yang mempelajari Indonesia dan mengikuti transformasi tersebut dengan dekat. Namun sekarang, justru kita yang belajar dari Vietnam,” ujar Rachmat dalam acara Indonesia Vietnam Friendship Asosiation, Selasa (10/3).
Ia mengungkapkan bahwa pada era 1980-an Indonesia kerap mengunjungi Vietnam untuk bekerja sama di sektor pertanian. Namun dalam beberapa dekade terakhir, Vietnam dinilai mampu melakukan lompatan besar dalam pembangunan ekonomi.
“Sekarang kita harus belajar dari Vietnam karena negara tersebut bergerak sangat cepat,” katanya.
Rachmat menjelaskan, Vietnam telah menunjukkan transformasi ekonomi yang signifikan dengan mengembangkan kapasitas manufaktur yang kuat dan membangun industri ekspor yang kompetitif. Negara itu juga dinilai berhasil memperluas industri bernilai tambah tinggi, termasuk di sektor otomotif.
Kemajuan tersebut, lanjutnya, membuat hubungan Indonesia dan Vietnam memasuki fase baru.
Saat ini kedua negara dipandang sebagai ekonomi yang sedang bangkit dan menjadi mesin pertumbuhan di Asia Tenggara serta pilar penting bagi perkembangan kawasan Asia. “Artinya kemitraan kita juga harus berkembang. Kerja sama tidak lagi cukup terbatas pada pertukaran tradisional, tetapi harus tumbuh menjadi kemitraan strategis untuk transformasi,” ujar Rachmat.
Di sisi lain, Indonesia juga tengah menjalankan transformasi pembangunan yang dipandu melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Dokumen tersebut, kata Rachmat, menjadi peta navigasi bagi Indonesia dalam melakukan transformasi struktural ekonomi.
Melalui rencana pembangunan tersebut, Indonesia menargetkan pertumbuhan ekonomi meningkat secara bertahap hingga mencapai 8% pada 2029. Namun ia menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi bukan satu-satunya tujuan pembangunan.
“Pertumbuhan harus mampu mengurangi kemiskinan, memperkuat kualitas sumber daya manusia, dan menciptakan peluang bagi generasi berikutnya,” katanya.