Inflasi Terkendali Jelang Idulfitri, Purbaya Sebut Ekonomi Belum Kepanasan
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan inflasi tetap terkendali menjelang hari raya Idulfitri 1447 Hijriah. Ia menyebutkan kenaikan inflasi secara tahunan pada Februari 2026 mencapai 4,76% year on year (yoy).
Bendahara negara ini mengatakan, angka inflasi yang tinggi tersebut ditopang oleh diskon tarif listrik pada awal 2025.
“Ini terutama bersifat temporer kenaikannya akibat low base effect dari diskon listrik pada awal tahun 2025. Tanpa pengaruh diskon listrik, inflasi Februari diperkirakan hanya 2,59%,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTA Februari 2026, Rabu (11/3).
Purbaya mengklaim inflasi tetap terkendali dan stabilitas harga terjaga. Ia mengatakan kinerja ekonomi yang positif tersebut juga semakin inklusif.
“Tercermin dari peningkatan penyerapan tenaga kerja, penurunan tingkat pengangguran, serta berlanjutnya tren penurunan kemiskinan,” kata dia.
Di sisi lain, mantan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) itu mengatakan inflasi inti naik terbatas didorong harga emas dan peningkatan permintaan selama Ramadan. Inflasi inti non-emas mencapai 1,4%.
Begitu pula dengan ketahanan ekonomi domestik yang menurutnya tetap terjaga di tengah ketidakpastian global.
“Pertumbuhan ekonomi ini sudah rilis triwulan lalu 5.39%, dan harusnya triwulan ini akan tumbuh lebih cepat. Saya selalu bilang antara 5,5% sampai 6% mungkin masih bisa tercapai. PMI manufaktur sekarang di level 53,8, tertinggi dalam dua tahun terakhir,” katanya.
Purbaya Bantah Ekonomi RI Kepanasan
Dari sisi eksternal, Purbaya mengklaim ketahanan ekonomi tetap terjaga dengan surplus neraca perdagangan. Ia membantah adanya anggapan yang menilai ekonomi RI ‘kepanasan’ dan harus diperlambat.
“Ini kenapa angka inflasi ini penting, karena orang di luar sering melihat yang angka 4.76% tadi dan mereka mulai menunjuk ekonomi Indonesia kepanasan, harus diperlambat,” kata dia.
Padahal, ekonomi Indonesia baru mulai tumbuh lebih cepat. Dengan angka 2,59%, ia berpandangan bahwa ruang untuk ekonomi Indonesia tumbuh terbuka lebih lebar.
“Kita baru mulai tumbuh lebih cepat. Kalau angka yang sebetulnya 2,59% itu masih sesuai target, malah di bawah target. Artinya, ruang bagi ekonomi untuk tumbuh lebih cepat terbuka lebar tanpa harus memicu inflasi. Jadi, pertumbuhan ekonomi belum terlalu cepat dan belum kepanasan,” kata Purbaya.