BI Tahan Suku Bunga 4,75% Demi Jaga Stabilitas Rupiah di Tengah Perang Iran-AS
Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 16-17 Maret 2026. Keputusan ini diambil di tengah kondisi nilai tukar rupiah yang tengah melemah dan sempat menembus level 17.000 per dolar AS di tengah perang Iran dengan AS
Suku bunga deposit facility diputuskan tetap sebesar 3,75% dan lending facility tetap sebesar 5,50%.
"Keputusan ini untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupian dari dampak perang di Temur Tengah dan menjaga pencapaian sasaran inflasi,” ujar Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam konferensi pers, Rabu (21/1).
Nilai tukar rupiah hingga Senin (16/3) berada di level 16.985 per dolar AS, melemah 121 bps dibandingkan akhir Februari 2026 sejalan dengan pelemahan mata uang negara non-dolar AS.
"Memburuknya kondisi global akibat perang berdampak pada pelemahan nilai tukar dan keluarnya arus modal dari negara emerging market, termasuk Indonesia," kata dia.
Karena itu, menurut Perry, BI akan meningkat intensitas langkah-langkah stabilitas rupiah melalui intervensi di pasar offsore maupun onshore guna menjaga stabilitas rupiah. BI juga akan mengoptimalkan seluruh instrumen moneter untuk mengoptimalkan arus masuk modal asing ke Indonesia.
"BI meyakini nilai tukar rupiah akan stabil didukung oleh komitmen Bank Indonesia, imbal hasil yang menarik, dan prospek ekonomi Indonesia yang membaik." kata dia.
BI juga mencatat, inflasi tahunan pada Februari 2026 memang sempat melesat mencapai 4,76%. Namun, kenaikan inflasi tersebut hanya bersifat temporer karena kebijakan diskon tarif listrik yang dilakukan pemerintah pada tahun sebelumnya.
Bank Sentral memperkirakan inflasi tetap akan terjaga dalam kisaran 2,5% plus minus 1% meski lebih tinggi dibandingkan perkiraan sebelumnya. Hal ini seiring dengan dampak kenaikan harga komoditas sebagai imbas dari memanas kondisi geopolitik di Timur Tengah.