Rupiah Berpotensi Melemah, Tertekan Melonjaknya Harga Minyak
Nilai tukar rupiah diperkirakan kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan hari ini. Rupiah berpotensi melemah seiring memburuknya sentimen pasar global dan kenaikan harga minyak mentah dunia.
“Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS di tengah sentimen yang memburuk dan harga minyak mentah dunia yang masih terus naik,” ujar Analis Doo Financial, Lukman Leong, kepada Katadata.
Berdasarkan Bloomberg, rupiah dibuka ke level Rp 16.979 per dolar AS. Hingga pukul 9.54 WIB Rupiah pun perlahan bergerak turun ke level 16.989 per dolar AS melemah 0,05% atau 9 poin.
Adapun pada penutupan perdagangan Jumat (27/3), nilai tukar rupiah di pasar spot nyaris sentuh level psikologis Rp 17.000 per dollar AS. Rupiah ditutup terdepresiasi 76 poin atau 0,45% ke posisi Rp 16.980 per dolar AS
Untuk perdagangan hari ini, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp16.950 hingga Rp17.050 per dolar AS.
Lukman mengatakan rupiah berpotensi melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Tekanan tersebut terutama berasal dari ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Menurut Lukman, investor kini cenderung memperkirakan bahwa bank sentral AS akan kembali menaikkan suku bunga tahun ini. Ekspektasi tersebut mendorong aliran dana ke aset-aset berbasis dolar AS dan memperkuat mata uang Negeri Avbang Sam.
Selain itu, kenaikan harga minyak mentah global turut memperburuk tekanan terhadap rupiah. Sebagai negara net importir minyak, lonjakan harga energi berpotensi meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk impor, sehingga menekan nilai tukar rupiah.
Pelaku pasar kini akan mencermati perkembangan kebijakan moneter AS serta pergerakan harga komoditas global yang masih menjadi faktor utama penentu arah rupiah dalam jangka pendek.