Bos The Fed Waspadai Dampak Perang Iran ke Inflasi

ANTARA FOTO/REUTERS/Elizabeth Frantz/wsj
Federal Reserve Board Chairman Jerome Powell speaks during a news conference following a two-day meeting of the Federal Open Market Committee (FOMC) in Washington, U.S., July 27, 2022.
31/3/2026, 10.06 WIB

Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, menyatakan bahwa ekspektasi inflasi jangka panjang masih relatif terkendali. Meski demikian, Bank Sentral Amerika Serikat itu tterus mencermati dampak ekonomi dari konflik antara AS dan Israel melawan Iran.

Berbicara dalam sebuah acara di Harvard University pada Senin (30/3), Powell menegaskan bahwa ekspektasi inflasi tetap terjaga dengan baik. Namun, ia mengingatkan bahwa The Fed tetap waspada terhadap potensi perubahan akibat dinamika geopolitik.

“Kami belum mengetahui secara pasti dampak ekonominya. Saat ini, kebijakan kami berada pada posisi yang tepat untuk menunggu dan melihat perkembangan lebih lanjut,” katanya dikutip dari Bloomberg.

Lonjakan harga minyak sejak pecahnya Perang Iran sekitar sebulan lalu dinilai berpotensi meningkatkan tekanan inflasi. Di sisi lain, kenaikan harga energi juga dapat menekan daya beli konsumen dan memperlambat pertumbuhan ekonomi. 

Kondisi ini menjadi tantangan bagi The Fed yang memiliki mandat ganda, yakni menjaga stabilitas harga sekaligus mendorong lapangan kerja maksimal.

 Powell menjelaskan bahwa bank sentral memantau guncangan dari harga energi. Namun, ia menilai pentingnya memantau ekspektasi inflasi secara ketat sebagai faktor kunci dalam pengambilan kebijakan.

Pasar merespons positif pernyataan tersebut, dengan obligasi pemerintah AS (Treasuries) menguat dan indeks saham mengalami kenaikan.

Sebelumnya, para pejabat The Fed memutuskan untuk kembali menahan suku bunga pada awal bulan ini di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi. 

Powell mengatakan bahwa bank sentral membutuhkan lebih banyak bukti bahwa inflasi bergerak menuju target 2% sebelum mempertimbangkan pelonggaran kebijakan moneter.

 Powell juga menyoroti gejolak di sektor kredit swasta yang belakangan memicu kekhawatiran investor. Sejumlah investor bahkan mulai menarik dana lebih awal, sementara beberapa dana investasi membatasi penarikan.

 Meski demikian, Powell menilai kondisi tersebut masih dalam tahap koreksi dan belum menunjukkan tanda-tanda risiko sistemik.  “Kami memantau dengan sangat cermat, terutama kemungkinan adanya dampak penularan ke sistem perbankan. Namun sejauh ini, kami belum melihat hal tersebut,” ujarnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah