Saat Timur Tengah Bergejolak, Malaysia Naikkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi
Malaysia justru menunjukkan optimisme ekonomi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Bank sentral negara itu, Bank Negara Malaysia (BNM), menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk tahun 2026 ke kisaran 4-5%.
Dalam laporan terbarunya, BNM memperkirakan ekonomi Malaysia akan tumbuh di kisaran 4% hingga 5%, lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya. Kenaikan ini terjadi di tengah konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang berpotensi mengguncang harga komoditas energi, pasar keuangan, dan stabilitas global.
“Ketahanan domestik Malaysia dan struktur ekspor yang terdiversifikasi memberikan fondasi yang kuat untuk menghadapi tekanan eksternal saat ini,” ujar Gubernur BNM, Abdul Rasheed Ghaffour seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (30/3).
Salah satu faktor utama di balik optimisme ini adalah kuatnya permintaan domestik. Peningkatan lapangan kerja, pertumbuhan upah, serta kebijakan pemerintah yang mendukung konsumsi rumah tangga menjadi penopang utama pertumbuhan.
Meskipun harga minyak mentah melonjak, pemerintah Perdana Menteri Anwar Ibrahim tetap mempertahankan harga bensin bersubsidi paling populer di Malaysia pada 1,99 ringgit (US$0,49) per liter. Di sisi lain, pemerintah mengurangi kuota bulanan bahan bakar tersebut menjadi 200 liter dari sebelumnya 300 liter per warga.
“Kami memperkirakan kondisi global akan tetap tidak pasti, dengan banyak faktor yang memengaruhi kondisi ekonomi domestik. Meski demikian, ekonomi Malaysia diproyeksikan tetap kokoh, didukung oleh permintaan domestik yang tangguh,” kata Rasheed.
Meski demikian, BNM mengakui ketidakpastian global masih tinggi. Konflik di Timur Tengah berpotensi memicu lonjakan harga komoditas dan inflasi, tergantung pada durasi dan intensitasnya.
Untuk saat ini, inflasi diperkirakan tetap terkendali di kisaran 1,5% hingga 2,5%. Namun, bank sentral menegaskan akan tetap waspada dan siap mengambil langkah jika volatilitas meningkat.
Ringgit, Salah Satu Mata Uang Terkuat di Asia
Optimisme ini juga tercermin dari kinerja mata uang ringgit yang menjadi salah satu yang terbaik di Asia dalam setahun terakhir meskipun sempat melemah sejak perang dimulai pada 28 Februari.
Meski terjadi volatilitas di pasar valuta asing, para pembuat kebijakan akan terus menjaga stabilitas, menurut kepala bank sentral tersebut.
“Komite Kebijakan Moneter akan terus memantau perkembangan dan menilai keseimbangan risiko terhadap prospek pertumbuhan dan inflasi. Kami juga siap seperti pada periode ketidakpastian tinggi sebelumnya untuk memastikan pasar tetap tertib dan mengelola risiko volatilitas berlebihan,” kata Rasheed.
BNM terakhir kali menurunkan suku bunga kebijakan semalam pada Juli 2025. Ini merupakan pemangkasan pertama dalam lima tahun sebagai langkah antisipatif untuk mendukung pertumbuhan.
Sebelumnya, pada Mei 2025 bank sentral juga menurunkan persyaratan cadangan wajib bank menjadi 1% dari 2%, memberikan fleksibilitas lebih besar bagi perbankan dalam mengelola likuiditas di tengah volatilitas pasar keuangan.
“Transmisi kebijakan moneter tetap berjalan tertib dan sesuai dengan harapan. Penyesuaian ini diharapkan memberikan dukungan tambahan bagi perekonomian hingga tahun 2026,” ujarnya.