Inflasi Maret Capai 0,14%, Kenaikan Harga Pangan Diredam Diskon Transportasi

ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/wsj.
Kenaikan harga ayam menjadi salah satu penyumbang inflasi pada Maret.
Penulis: Ade Rosman
Editor: Agustiyanti
1/4/2026, 13.24 WIB

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pada Maret 2026 sebesar 0,41% secara bulanan atau month to month (mtm). Angka ini meningkat seiring kenaikan permintaan masyarakat menjelang Ramadan dan Lebaran, terutama dipicu oleh kenaikan harga komoditas pangan. 

Namun, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, stimulus berupa diskon tarif transportasi mudik membantu menahan tekanan harga pada kelompok transportasi.

Ateng memaparkan, inflasi bulanan Maret 2026 terutama didorong kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi sekitar 1,07% dengan andil 0,32% terhadap inflasi umum.

“Komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yaitu ikan segar, daging ayam ras, beras, telur ayam ras, cabai rawit, minyak goreng, serta daging sapi,” kata Ateng dalam konferensi pers, Rabu (1/4).

Ia menjelaskan, ikan segar dan daging ayam ras masing-masing memberi andil inflasi 0,06%, sedangkan beras menyumbang 0,03%. 

Selain faktor musiman Lebaran,  menurut BPS, penyesuaian harga BBM nonsubsidi pada Maret juga turut memberi tekanan inflasi. Komoditas bensin tercatat menyumbang andil inflasi 0,04%, sementara tarif angkutan antarkota memberi andil 0,03%.

Di sisi lain, BPS menilai lonjakan harga di sektor transportasi tertahan oleh kebijakan pemerintah berupa diskon tarif angkutan selama periode mudik Lebaran yang mencakup diskon tiket pesawat, kereta api, angkutan laut, serta penyeberangan.

“Tarif angkutan udara justru memberikan andil deflasi sebesar 0,03%. Ini terjadi seiring stimulus ekonomi berupa diskon tarif transportasi pada masa Lebaran Idul Fitri tahun 2026,” kata Ateng. 

Selain itu, BPS juga mencatat beberapa komoditas transportasi yang mengalami deflasi, yaitu tarif jalan tol sebesar 0,87%, angkutan laut 7,45%, ASDP 3,17%, dan kereta api 3,18%. 

Selain transportasi, komoditas emas perhiasan juga turut menahan inflasi dengan deflasi 1,17% pada Maret 2026, sejalan dengan penurunan harga emas internasional. BPS mencatat, ini menjadi penurunan pertama setelah emas perhiasan mengalami inflasi selama 30 bulan berturut-turut. 

Adapun, secara tahunan, inflasi Maret 2026 tercatat 3,48% year on year (yoy), yang mana penyumbang utamanya berasal dari kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga dengan andil 1,08%, terutama akibat tarif listrik.

Ateng menjelaskan inflasi tahunan masih dipengaruhi low base effect, yakni basis pembanding rendah pada tahun lalu akibat diskon tarif listrik yang berlaku pada awal 2025.

“Pengaruh low base effect pada Maret lebih kecil dibanding Januari dan Februari, karena diskon listrik untuk pelanggan prabayar tahun lalu sudah berakhir,” kata dia.

Berdasarkan wilayahnya, 34 provinsi mengalami inflasi dan 4 provinsi mengalami deflasi pada Maret 2026. Inflasi tertinggi terjadi di Papua Pegunungan (2,57%), sedangkan deflasi terdalam tercatat di (Maluku sebesar 0,75%). 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ade Rosman