Indonesia Tujuan Utama Investasi Global, Raih Komitmen Korsel Rp 173 Triliun
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan Indonesia tetap menjadi tujuan utama investasi global meski situasi geopolitik dunia tengah diliputi ketidakpastian. Hal ini tercermin dari capaian kerja sama terbaru dengan Korea Selatan (Korsel) yang menghasilkan komitmen investasi senilai US$10,2 miliar atau sekitar Rp173,56 triliun.
Pernyataan tersebut disampaikan Airlangga usai menghadiri forum Indonesia-Korea Partnership for Resilient Growth bersama Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani. Acara itu turut dihadiri Menteri Perdagangan Korea Selatan, Ahn Duk-geun.
Dalam pertemuan tersebut, kedua negara menandatangani sepuluh nota kesepahaman (MoU) yang mencakup berbagai sektor strategis.
“Sektornya antara lain energi dan transisi hijau seperti solar power, carbon capture and storage, serta renewable energy. Selain itu juga industri manufaktur, termasuk baja, baterai, dan transportasi ramah lingkungan,” ujar Airlangga, Kamis (2/4).
Tak hanya itu, kerja sama juga merambah sektor digital dan kecerdasan buatan (AI), serta pengembangan properti dan infrastruktur, termasuk proyek di kawasan Bumi Serpong Damai (BSD).
Kolaborasi bisnis juga diperkuat melalui kemitraan antara Kadin Indonesia dan Korea Chamber of Commerce and Industry (KCCI) guna mendorong realisasi investasi.
Airlangga mengatakan, investasi Korea Selatan juga mencakup penguatan rantai pasok baterai kendaraan listrik serta pengembangan manufaktur teknologi.
Beberapa perusahaan besar yang terlibat antara lain POSCO yang melanjutkan investasinya di sektor baja, serta Lotte Group yang membuka peluang kerja sama baru, termasuk potensi keterlibatan Danantara sebagai investor.
Investasi dari Jepang
Selain Korea Selatan, kunjungan Presiden ke Jepang beberapa waktu lalu juga menghasilkan sepuluh MoU dengan total investasi mencapai US$23,6 miliar atau sekitar Rp401 triliun.
Kerja sama dengan Jepang mencakup sektor energi dan transisi energi, termasuk proyek strategis Masela, hilirisasi industri, keuangan dan inklusi finansial yang melibatkan SMBC dan Pegadaian serta dukungan kelembagaan dari JETRO. Secara keseluruhan, rangkaian kunjungan tersebut menghasilkan total komitmen investasi sebesar Rp574 triliun.
“Ini angka yang sangat signifikan. Di tengah situasi geopolitik yang tidak menentu, Indonesia tetap menjadi daya tarik utama bagi investor global,” kata Airlangga.
Ia juga mengungkapkan bahwa Jepang dan Korea Selatan saat ini masing-masing menempati posisi ketiga dan ketujuh sebagai mitra investasi dan perdagangan Indonesia.
“Dan ke depan keduanya sangat berharap bahwa dengan Indonesia mempunyai Sovereign Wealth Fund, maka Indonesia juga bisa menjadi co-investor,” ujarnya.