Indeks bursa Wall Street ditutup naik pada perdagangan Rabu (8/4) setelah Presiden AS Donald Trump menunda rencana serangan terhadap Iran selama dua minggu. 

Penundaan ini menghentikan sementara konflik yang telah berlangsung sekitar lima minggu. Tak hanya itu, konflik ini bahkan sempat mengganggu jalur pelayaran penting bagi pasokan energi global.

Usai kebijakan itu, Dow Jones Industrial Average melonjak 1.325,46 poin atau 2,85% ke level 47.909,92, sekaligus mencatat kenaikan harian terbaik sejak April 2025. S&P 500 naik 2,51% ke 6.782,81 dan Nasdaq Composite melesat 2,80% ke 22.635,00, 

Di pasar komoditas, harga minyak jatuh tajam. Kontrak berjangka West Texas Intermediate anjlok lebih dari 16% ke US$ 94,41 per barel, menjadi penurunan harian terbesar sejak April 2020. Sementara itu, minyak acuan global Brent Crude untuk pengiriman Juni turun sekitar 13% ke US$94,75 per barel.

Koreksi harga minyak seiring pasar merespons meredanya ketegangan di Timur Tengah, yang menurunkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global.

“Kami menerima proposal 10 poin dari Iran dan percaya ini merupakan dasar yang dapat diandalkan untuk bernegosiasi,” tulis Trump akun media sosial Truth Social, dikutip CNBC International, Kamis (9/4). 

Iran melalui Dewan Keamanan Nasional Tertinggi menyetujui pembukaan kembali jalur perairan strategis selama dua minggu, dengan syarat seluruh serangan dihentikan. Menteri Luar Negeri Iran menyatakan lalu lintas kapal harus dikoordinasikan dengan angkatan bersenjata. Israel dikabarkan juga menyepakati gencatan senjata tersebut.

Kepala strategi pasar Freedom Capital Markets, Jay Woods, menilai penangguhan konflik ini bukan hal mengejutkan. Ia mengatakan pasar kini terbiasa membaca langkah Presiden Donald Trump. 

“Kekhawatiran saat ini adalah apakah kerangka waktu dua minggu ini akan membawa pada penyelesaian,” kata Woods, dikutip CNBC International, Kamis (9/4). 

Sentimen positif pasar kembali menguat setelah Trump menyatakan Amerika Serikat akan bekerja sama dengan Iran untuk menghilangkan bahan nuklir, sekaligus membahas pengurangan tarif dan sanksi. Meski demikian, ketidakpastian masih membayangi jalur pelayaran di Selat Hormuz. Kantor berita Fars melaporkan lalu lintas kapal tanker sempat terhenti menyusul serangan Israel ke Lebanon. 

Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, bahkan menuduh AS melanggar kesepakatan gencatan senjata. Di pasar saham, kenaikan dipimpin sektor yang paling terpukul sejak konflik pecah. ETF VanEck Semiconductor ETF (SMH) melonjak lebih dari 5%. Saham Broadcom naik hampir 5%, sementara Micron Technology melesat lebih dari 7%.

Pasar global juga mencatat kinerja lebih kuat. ETF iShares MSCI Emerging Markets ETF (EEM) naik lebih dari 5%, sementara saham Korea Selatan melonjak lebih dari 10%. Saham berkapitalisasi kecil turut menguat hampir 3% seiring meningkatnya ekspektasi siklus ekonomi.

Sebaliknya, saham energi terkoreksi setelah reli panjang. Saham Exxon Mobil dan Chevron masing-masing turun lebih dari 4%.

Direktur investasi Modern Wealth Management, Stephen Tuckwood, menilai kenaikan ini memperkuat indikasi pasar telah menemukan titik dasar setelah aksi jual bulan lalu. Namun, ia menyebut volatilitas masih tinggi karena pasar tetap sensitif terhadap perkembangan geopolitik.

 
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila