Pemerintah Yakin Fenomena Sosial-Ekonomi Chilean Paradox Tak Akan Terjadi di RI
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan, pemerintah optimistis fenomena sosial-ekonomi yang disebut ‘Chilean Paradox’ tidak akan terjadi di Indonesia.
Fenomena tersebut menggambarkan situasi yang pernah terjadi di salah satu negara di Amerika Latin, Chile, saat pertumbuhan ekonomi yang pesat tidak dibarengi dengan kesejahteraan masyarakat hingga menyebabkan krisis sosial.
Saat ini 17,13% masyarakat Indonesia terjebak di kelas ekonomi menengah dan 49,22% lainnya baru menuju kelas menengah.
“Pelajaran paling berharga dari Chilean Paradox adalah bahwa stabilitas makroekonomi yang indikatornya bagus itu di beberapa case tidak menjamin adanya keadilan sosial,” kata Susiwijono, dalam Katadata IDE Forum 2026, di Jakarta, Rabu (14/4).
Menurut dia, fenomena ini tidak akan terjadi di Indonesia, sebab sejumlah program pemerintah telah menyasar kelompok kelas menengah dan menuju kelas menengah. Hal ini dinilai sebagai upaya untuk memastikan adanya kesejahteraan ekonomi-sosial.
Sebagai informasi, kelas menengah dikategorikan untuk masyarakat dengan pengeluaran Rp2-10 juta per kapita per bulan. Sementara masyarakat dalam kelompok menuju kelas menengah berpenghasilan Rp800 ribu sampai sekitar Rp2 juta.
Tujuh Program Pemerintah Sasar Kelas Menengah
Dalam paparannya, Susiwijono memaparkan ada sekitar tujuh program pemerintah dengan estimasi benefit Rp200-500 ribu per bulan yang menyasar kelompok masyarakat Desil 4-7 atau tergolong masyarakat kelas menengah.
Untuk Desil 1-3 bahkan lebih banyak, mencapai 9 program dengan estimasi benefit Rp550-950 ribu per bulan.
Adapun program untuk kelas menengah di antaranya Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan + Subsidi Bantuan Uang Muka untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah, Iuran Jaminan Kehilangan Pekerjaan, Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah untuk perumahan dan otomotif, Kredit Usaha Rakyat, Program Magang Nasional, Bantuan Subsidi Upah, serta subsidi dan kompensasi energi.
“Bantuan untuk sektor kelas menengah ini saya kira sudah sangat besar,” ucap dia. Untuk kelompok menuju kelas menengah, pemerintah menambahkan Bantuan Sosial PKH dan Bantuan BPNT/Kartu Sembako.
Pertumbuhan Ekonomi 5,4%
Susiwijono dalam forum tersebut menjelaskan, indikator makro dan bantalan ekonomi domestik Indonesia masih cukup kuat di tengah gejolak ekonomi-politik global.
“Kita masih sangat optimis, bahkan tahun ini mungkin kita masih menargetkan 5,4% untuk full year 2026,” ucap dia.
Susiwijono merujuk pada kinerja pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV-2025 yang cukup kuat di angka 5,39% dan cenderung lebih unggul dibandingkan negara G20 lainnya. Dia memprediksi angka yang lebih tinggi untuk kuartal I-2026, yaitu di atas 5,5%.