Rupiah Masuk Jajaran Mata Uang Terlemah, Ekonom Sebut Tak Cerminkan Fundamental
Nilai tukar rupiah yang sempat berada di kisaran Rp 17.185 per dolar AS memicu kekhawatiran publik dan memunculkan anggapan bahwa mata uang Indonesia menjadi salah satu yang terlemah di dunia.
Laporan Forbes juga menyebut rupiah menjadi salah satu dari 10 mata uang dunia terlemah pada 2026. Rupiah berada di urutan kelima setelah riyal Iran, pound Lebanon, dong Vietnam, dan kip Laos. Satu rupiah saat ini bernilai US$ 0,000059, yang berarti US$ 1 setara dengan Rp 17.066,15.
Peneliti Ekonomi Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai persepsi yang melihat rupiah sebagai salah satu mata uang terlemah di dunia perlu dilihat secara lebih komprehensif. Angka nominal rupiah yang terlihat besar dibanding mata uang lain tidak serta-merta mencerminkan kelemahan fundamental ekonomi.
“Yang lebih relevan untuk melihat kekuatan mata uang adalah arah pergerakan, stabilitas, dan daya belinya. Dari sisi itu, memang rupiah sedang dalam tekanan,” ujarnya kepada Katadata.co.id, Senin (20/4).
Ia mengatakan pelemahan rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor domestik dibandingkan isu cadangan emas yang kerap dikait-kaitkan. Saat ini Bank Indonesia (BI) diperkirakan memiliki cadangan emas relatif kecil, sekitar 85 ton.
Sebagai perbandingan, Bank Sentral Cina (PBOC), yang merupakan pemegang cadangan emas terbesar di dunia, memiliki 2.303,5 ton emas pada akhir kuartal I 2026. Adapun Bank Sentral Singapura (MAS), negara tetangga Indonesia, memiliki cadangan emas 193,56 ton.
Yusuf mengatakan, dalam sistem keuangan modern emas bukan lagi penopang utama nilai mata uang.
“Hubungan antara jumlah cadangan emas dan nilai tukar tidak sekuat yang sering dibayangkan. Jadi, bukan itu faktor utama pelemahan rupiah saat ini,” kata Yusuf.
Kepercayaan Investor Menurun
Yusuf mengatakan tekanan terhadap rupiah berasal dari menurunnya kepercayaan investor terhadap aset domestik. Hal ini tercermin dari arus modal keluar (capital outflow) yang memberikan tekanan tambahan di pasar valuta asing (valas).
Dari sisi fiskal, pasar juga mulai mencermati meningkatnya kebutuhan pembiayaan pemerintah di tengah ruang anggaran yang semakin sempit. Kondisi ini dinilai meningkatkan persepsi risiko terhadap perekonomian Indonesia.
Selain itu, struktur ekonomi Indonesia yang masih bergantung pada impor untuk mendorong pertumbuhan serta ekspor yang didominasi komoditas membuat rupiah rentan terhadap gejolak global.
“Ketika harga komoditas berfluktuasi, rupiah juga ikut terdampak,” jelasnya.
Di sisi lain, kebijakan moneter juga menghadapi dilema antara menjaga stabilitas nilai tukar dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Ketidakpastian arah kebijakan ini turut memengaruhi sentimen pasar.
Yusuf menambahkan, peningkatan cadangan emas tetap relevan sebagai strategi jangka panjang untuk diversifikasi cadangan devisa. Namun, langkah tersebut bukan solusi instan untuk memperkuat rupiah dalam jangka pendek.
“Masalah utamanya ada pada struktur ekonomi dan kepercayaan pasar. Itu yang perlu diperbaiki jika ingin memperkuat rupiah secara berkelanjutan,” pungkasnya.