Dolar AS Tembus 17.500 per Dolar AS, Rupiah Terlemah Sepanjang Sejarah

ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/hm
Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (5/5/2026). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bergerak melemah 11 poin atau 0,07 persen menjadi Rp17.405 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.394 per dolar AS, yang dipengaruhi eskalasi di Timur Tengah yang semakin memanas.
Penulis: Agustiyanti
12/5/2026, 09.46 WIB

Nilai tukar rupiah menembus 17.500 per dolar AS pada perdagangan pagi ini, Selasa (12/5). Ini adalah level terlemah rupiah sepanjang sejarah.

Berdasarkan data Bloomberg, kurs rupiah dibuka melemah 64 poin di level 17.478 per dolar AS. Rupiah bergerak kian melemah ke level 17.502 per dolar AS pada pukul 09.14 WIB per dolar AS.

Analis Doo Financial Lukman Leong menjelaskan pelemahan rupiah terjadi seiring meredupnya harapan damai antara AS-Iran serta harga minyak mentah dunia yg masih tinggi.

“Investor juga menantikan data penjualan ritel Indonesia yg akan dirilis siang ini dan pengumuman MSCI hari ini tidak akan memberikan berita baik pada IHSG,” ujar dia kepada Katadata.co.id, Selasa (12/5). 

Ia memperkirakan rupiah akan bergerak di level 17.400-17.550 per dolar AS pada hari ini.

Tujuh Langkah BI untuk Stabilisasi Rupiah

Gubernur Bank Indonesia (BI)  Perry Warjiyo sebelumnya menyampaikan telah memiliki tujuh langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang kini telah menembus Rp 17.425 per dolar AS. Langkah-langkah ini telah mendapat persetujuan dari Presiden Prabowo Subianto.

1. Intervensi Valas di Pasar Domestik dan Luar Negeri

Perry mengatakan pihak BI akan melakukan intervensi di pasar valuta asing melalui transaksi spot dan instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di dalam negeri. Selain itu, intervensi juga dilakukan lewat Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri seperti Hong Kong, Singapura, London, dan New York.

"Kami terus akan melakukan intervensi untuk menstabilkan rupiah baik di dalam negeri maupun dari luar negeri. Cadangan devisa kami lebih dari cukup untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah," kata Perry.

2. BI Bidik Dana lewat SRBI

BI mendorong peningkatan aliran modal masuk (inflow) melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Hal ini diharapkan dapat menutup arus keluar (outflow) dari Surat Berharga Negara (SBN) dan pasar saham.

3. BI Lanjutkan Pembelian SBN

BI melanjutkan pembelian SBN di pasar sekunder. Menurut Perry, realisasi pembelian SBN hingga tahun ini telah mencapai Rp123,1 triliun. "Kami sudah membeli SBN dari pasar sekunder year to date Rp 123,1 triliun dan kami akan melakukan koordinasi termasuk dengan Pak Menteri Keuangan bisa melakukan masalah buyback," kata Perry.

4. BI Longgarkan Likuidita Perbankan

Perry mengatakan pihak BI bersama Kementerian Keuangan akan menjaga likuiditas perbankan dan pasar uang tetap longgar. Ia menilai hal ini tercermin dari pertumbuhan uang primer yang mencapai 14,1%.

5. BI Batasi Pembelian Dolar AS

BI juga memperketat pembatasan pembelian dolar. Batas pembelian yang sebelumnya US$ 100 ribu per orang per bulan akan kembali dipangkas menjadi US$ 25 ribu. "Pembelian dolar sampai dengan atau di atas US$ 25 ribu itu harus pakai underlying. Ya itu yang yang kami akan perkuat," ujar Perry. Selain itu, BI juga mendorong penggunaan mata Yuan dalam transaksi domestik guna mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.

6. BI Tambah Pasokan Dolar lewat Pasar NDF Luar Negeri

Keenam, BI memperkuat intervensi di pasar offshore NDF dengan memperbolehkan bank domestik berpartisipasi dalam transaksi tersebut untuk meningkatkan suplai valas. "Kami juga membolehkan bank-bank domestik untuk ikut jualan offshore NDF di luar negeri sehingga pasokannya lebih lebih banyak, sehingga itu akan memperkuat stabilisasi dari nilai tukar rupiah," kata Perry.

7. BI Perketat Pengawasan Pembelian Dolar

Perry juga mengatakan pihaknya turut meningkatkan pengawasan terhadap bank dan korporasi yang memiliki aktivitas pembelian dolar tinggi. Hal ini bertujuan agar stabilitas sistem keuangan tetap terjaga. "Bank-bank korporasi yang aktivitas pembelian dolarnya tinggi kami kirim pengawas ke OJK untuk memastikan bagaimana stabilitas sistem keuangan terjaga," ujar Perry.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.