Rupiah Keok Hampir 10% terhadap Yuan Cina, Harga Barang Apa yang Bakal Naik?

Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Yuan Cina menguat terhadap dolar AS di tengah perang Iran.
Editor: Agustiyanti
26/5/2026, 14.55 WIB

Nilai tukar rupiah tak hanya melemah terhadap dolar AS, tetapi sejumlah mata uang regional lainnya. Salah satu pelemahan terdalam terjadi pada kurs rupiah terhadap yuan Cina yang hampir mencapai 10% sepanjang tahun ini. 

 

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 0,26% ke level Rp 17.791 per dolar AS pada perdagangan pukul 10.01 WIB. Sepanjang tahun ini, mata uang Garuda telah terkoreksi 6,66% terhadap dolar AS.

Sedangkan terhadap yuan China, rupiah melemah 0,2% ke level Rp 2.620 per yuan pada perdagangan hari ini. Sepanjang tahun ini, rupiah bahkan telah melemah 9,77% terhadap yuan. 

Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah terhadap yuan perlu diwaspadai mengingat hubungan dagang Indonesia dengan China sangat besar, khususnya di sektor ekspor dan impor.

 “Rupiah bukan saja melemah terhadap mata uang lain seperti dolar Singapura, ringgit, euro, maupun poundsterling. Terhadap yuan juga mengalami pelemahan,” ujar Ibrahim kepada Katadata, Selasa (26/5).

Menurut dia, kondisi ini dipicu oleh penguatan dolar AS yang membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah ikut tertekan. Namun dampak pelemahan rupiah terhadap yuan berpotensi lebih berat karena  tingginya ketergantungan impor Indonesia dari China.

Ia memperkirakan dampak pelemahan rupiah terhadap yuan mulai terasa pada semester II tahun ini, terutama terhadap kenaikan harga barang impor asal Cina.

“Di semester ke-2 kemungkinan besar bahwa akan terjadi ya dampaknya. Bisa saja ini akan berpengaruh terhadap kenaikan harga-harga barang dari Tiongkok,” katanya.

Senada, Analis Doo Financial Lukman Leong mengatakan depresiasi rupiah terhadap yuan berpotensi memicu imported inflation atau inflasi dari harga barang impor. 

“Banyak barang konsumsi, bahan baku, mesin hingga komponen industri Indonesia masih bergantung pada impor dari China,” kata Lukman.

Ia menilai, ada sejumlah barang yang berpotensi mengalami kenaikan harga, seperti elektronik dan gadge, barang rumah tangga impor, tekstil dan produk pakaian, bahan kimia industri, sparepart otomotif, serta komponen kendaraan listrik (EV)

Lukman menambahkan, dampak inflasi kemungkinan terjadi secara bertahap karena persaingan pasar domestik masih cukup ketat. Selain itu, pemerintah juga dinilai masih menjaga stabilitas harga pangan dan energi agar inflasi tetap terkendali.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah