BI Ungkap Penyebab Rupiah Makin Loyo hingga Sempat Tembus 17.900 per Dolar AS

Katadata/Fauza Syahputra
ilustrasi.
Editor: Agustiyanti
29/5/2026, 16.12 WIB

Bank Indonesia buka suara terkait penyebab melemahnya rupiah selama periode libur dan cuti bersama Idul Adha 1447 Hijriah hingga perdagangan hari ini. Kurs rupiah sempat menembus level 17.900 per dolar AS, rekor terburuknya sepanjang sejarah. 

Berdasarkan data Bloomberg, kurs rupiah sempat menembus 17.900 per dolar AS pada perdagangan di pasar spot saat libur Idul Adha, Kamis (28/5) meski ditutup di level 17.845 per dolar AS.

Rupiah pada hari ini sempat dibuka menguat 25 poin di level 17.820 per dolar AS, tetapi bergerak melemah dan sempat menembus 17.900 per dolar AS. Namun, kurs rupia ditutup melemah di level 17.880 per dolar AS.

Bank sentral menegaskan tekanan terhadap rupiah masih dipicu kombinasi faktor global dan tingginya kebutuhan dolar AS di dalam negeri. 

Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan. tekanan terhadap rupiah terutama berasal dari ketidakpastian global akibat konflik Timur Tengah yang masih berlanjut. 

“Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah masih dipengaruhi oleh berlanjutnya ketidakpastian global akibat perkembangan konflik di Timur Tengah,” ujar Ramdan dalam keterangannya, Jumat (29/5).

Selain faktor global, BI juga melihat adanya lonjakan permintaan valuta asing secara musiman selama periode pertengahan tahun. Kebutuhan dolar meningkat antara lain untuk pembayaran utang luar negeri (ULN) dan repatriasi dividen perusahaan.

“Di samping itu, terdapat peningkatan kebutuhan valas secara musiman, antara lain untuk pembayaran ULN dan repatriasi dividen, di tengah arus masuk dolar AS yang terbatas,” katanya.

BI Pastikan Tetap Intervensi Pasar

 Ramdan menegaskan, BI akan terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah. Ia menyebut bank sentral melakukan intervensi pasar valas secara agresif baik di pasar domestik maupun offshore.

 “Bank Indonesia terus berkomitmen hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, around the world, around the clock,” ujarnya.

 Intervensi dilakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

 Selain intervensi langsung, BI juga memperkuat efektivitas bauran kebijakan moneternya melalui penguatan struktur suku bunga instrumen moneter yang disebut lebih pro-market.

 Kebijakan tersebut diarahkan untuk menjaga daya tarik aset keuangan domestik sekaligus mendukung masuknya aliran modal asing ke Indonesia di tengah tingginya ketidakpastian global.

Dari sisi permintaan dolar AS, menurut dia, BI juga memperketat aturan pembelian valas tanpa underlying transaksi yang jelas. Mulai Juni 2026, BI menetapkan batas pembelian tunai valas terhadap rupiah tanpa underlying menjadi maksimal US$25.000 per pelaku per bulan.

 Selain itu, Ia mengatakan, BI akan terus memperkuat koordinasi dengan otoritas terkait untuk mengawasi aktivitas pembelian dolar AS yang tinggi oleh bank maupun korporasi.

BI juga akan terus mencermati perkembangan pasar keuangan global maupun domestik dan siap mengambil langkah tambahan apabila diperlukan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah