Surplus Perdagangan Indonesia Anjlok, Imported Inflation Mulai Tekan Rupiah

Katadata/Fauza Syahputra
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai penyusutan surplus neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 mulai memperlihatkan gejala imported inflation yang dapat memperburuk tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
3/6/2026, 10.32 WIB

Penyusutan tajam surplus neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 dinilai mulai memperlihatkan gejala imported inflation yang dapat memperburuk tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Imported inflation adalah tekanan inflasi yang disebabkan oleh kenaikan harga barang-barang yang diimpor. 

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, mengatakan melemahnya bantalan perdagangan membuat pasokan dolar AS dari ekspor semakin tipis di tengah tingginya kebutuhan valuta asing domestik.

Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mencatat surplus perdagangan Indonesia pada April 2026 hanya sebesar US$ 89,1 juta atau Rp 1,6 triliun (kurs Rp 17.920 per dolar AS). Angka tersebut merosot tajam dibandingkan surplus Maret 2026 yang mencapai US$ 3,32 miliar (Rp 59,5 triliun) dan menjadi surplus terkecil sejak Mei 2020.

Menurut Josua, surplus perdagangan memang masih bertahan selama 72 bulan berturut-turut, namun kualitas surplusnya melemah sehingga tidak lagi cukup kuat menopang stabilitas rupiah.

“Surplus perdagangan April tercatat sekitar US$ 0,09 miliar, turun tajam dari US$ 3,32 miliar pada Maret, sehingga bantalan pasokan dolar dari perdagangan barang menjadi jauh lebih tipis,” ujar Josua kepada Katadata, Rabu (3/6).

Ia menjelaskan, dalam kondisi normal surplus perdagangan membantu menopang rupiah karena eksportir membawa masuk dolar hasil ekspor. Namun ketika surplus semakin kecil, hampir seluruh pasokan dolar dari ekspor habis terserap untuk kebutuhan impor.

“Ini menjadi masalah karena pada saat yang sama Indonesia juga menghadapi kebutuhan dolar lain, seperti pembayaran jasa pengangkutan, dividen, bunga utang, impor energi, dan kebutuhan valas korporasi,” katanya.

Imported Inflation Mulai Muncul

Josua menilai tekanan inflasi yang disebabkan kenaikan harga barang impor atau imported inflation kini mulai terlihat dan memiliki hubungan dua arah dengan pelemahan rupiah.

Di satu sisi, rupiah yang melemah membuat harga barang impor seperti bahan baku, energi, mesin, komponen industri, hingga barang konsumsi menjadi lebih mahal dalam rupiah. Di sisi lain, ketika kebutuhan impor tetap tinggi meski harga naik, permintaan dolar ikut meningkat sehingga semakin menekan rupiah.

“Jadi, inflasi dari barang impor bukan hanya akibat pelemahan rupiah, tetapi juga bisa memperburuk pelemahan rupiah jika kebutuhan impor tetap besar dan surplus perdagangan menyempit,” ujar Josua.

Ia menyebut kondisi tersebut menciptakan “lingkaran tekanan” terhadap ekonomi domestik. Rupiah melemah membuat biaya impor naik, tekanan biaya produksi meningkat, Bank Indonesia harus menjaga suku bunga tetap tinggi, sementara kebutuhan dolar dunia usaha masih besar. 

Josua mengatakan tanda-tanda imported inflation mulai terlihat pada inflasi Mei 2026. Inflasi tahunan tercatat naik menjadi 3,08% dari sebelumnya 2,42% pada April.

Kenaikan tersebut dipicu oleh tekanan biaya dari sisi pasokan, termasuk kenaikan harga energi, biaya input impor, tarif transportasi, serta permintaan musiman Iduladha.

“Inflasi inti juga naik dari 2,44% menjadi 2,59%, yang mencerminkan bahwa pelemahan rupiah mulai masuk ke harga barang dan jasa yang lebih luas,” ujarnya.

Tekanan serupa juga mulai terasa di sektor manufaktur. PMI Manufaktur Indonesia Mei 2026 menunjukkan kenaikan beban biaya produksi menjadi yang kedua tercepat sejak survei dimulai pada 2011, sementara volume produksi turun selama tiga bulan berturut-turut. 

Perusahaan kini menghadapi dilema antara menaikkan harga jual atau menahan margin keuntungan ketika biaya bahan baku impor, energi, dan logistik meningkat.

“Dalam dua kasus tersebut, tekanan ke rupiah bisa tetap berlanjut karena dunia usaha masih membutuhkan dolar untuk impor input, sementara ekspor bernilai tambah belum cukup kuat,” katanya.

Konflik Timur Tengah Memperparah Tekanan terhadap Rupiah

Faktor eksternal juga dinilai memperburuk tekanan imported inflation dan rupiah. Konflik Timur Tengah serta ketidakpastian di Selat Hormuz membuat harga energi dan biaya logistik global tetap tinggi.

Josua mengatakan perang Iran telah mengganggu pasokan minyak, pupuk, helium, hingga berbagai input industri dunia. Bagi Indonesia yang masih menjadi pengimpor minyak dan LPG, kenaikan harga energi langsung meningkatkan kebutuhan dolar dan risiko inflasi.

“Pelemahan rupiah saat ini bukan hanya karena pasar keuangan atau sentimen global, tetapi juga karena pasar melihat bantalan perdagangan Indonesia makin tipis,” ujarnya.

Ia mengingatkan, surplus perdagangan sebesar US$ 89 juta memang masih positif secara nominal, tetapi secara ekonomi hampir netral. 

“Apabila surplus perdagangan barang menipis, sementara neraca jasa, pendapatan primer, dan kebutuhan pembayaran luar negeri tetap defisit, maka tekanan terhadap transaksi berjalan dan neraca pembayaran bisa meningkat,” katanya.

Kondisi tersebut dinilai membuat investor lebih berhati-hati memegang aset Indonesia, baik rupiah, Surat Berharga Negara (SBN), maupun saham domestik.

“Bank Indonesia sebelumnya juga menekankan bahwa pelemahan rupiah dipengaruhi ketidakpastian global dan meningkatnya permintaan valas korporasi domestik sejalan dengan aktivitas ekonomi,” ujarnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah