SBY Bagikan Resep Kepemimpinan di Tengah Ketidakpastian dan Gejolak Geopolitik

ANTARA FOTO/Arif Firmansyah/sg
Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menekankan pentingnya kepemimpinan yang tenang, inklusif, dan berpandangan jangka panjang di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian saat ini.
4/6/2026, 13.38 WIB

Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menekankan pentingnya kepemimpinan yang tenang, inklusif, dan berpandangan jangka panjang di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian saat ini. Berbekal pengalamannya memimpin Indonesia pada masa krisis dan transisi, SBY mengingatkan kekuatan seorang pemimpin tidak hanya diukur dari kemampuan mengelola krisis, tetapi juga menjaga kepercayaan publik.

Meski tidak menyebut nama atau pemerintahan tertentu, pandangan SBY dinilai menjadi refleksi penting terhadap gaya kepemimpinan di tengah dinamika ekonomi dan geopolitik saat ini.

“Setelah menjabat sebagai Presiden selama periode krisis dan transisi, saya belajar bahwa kepemimpinan yang kuat bukan hanya tentang mengelola krisis. Kepemimpinan yang kuat adalah tentang menjaga kepercayaan, sekali lagi kepercayaan, dan menciptakan peluang di tengah gangguan,” ujar SBY dalam The 2026 Asia Grassroots Forum (AGF) by Amartha, Kamis (4/6).

SBY mengatakan, pemimpin harus mampu tetap tenang di tengah tekanan dan ketidakpastian. Kepanikan hanya akan memperlemah institusi negara dan memperburuk situasi.

“Ketakutan menyebar dengan cepat di masa-masa sulit. Kepanikan melemahkan institusi. Seorang pemimpin harus tetap tenang, jujur, dan jelas tentang arah,” katanya.

Negara Dituntut Adaptif dan Realistis di Tengah Ketidakpastian

Selain itu, SBY menilai kepemimpinan harus mampu menggabungkan pragmatisme dengan prinsip-prinsip dasar. Dalam dunia yang semakin kompleks, negara dituntut adaptif dan realistis.

“Para pemimpin harus terus menjunjung tinggi perdamaian, keadilan, kemanusiaan, dan tanggung jawab,” ujarnya.

SBY juga mengingatkan bahaya pola pikir jangka pendek dalam politik modern. Ia menilai pembangunan berkelanjutan membutuhkan kesabaran dan keberanian untuk melampaui siklus politik lima tahunan.

“Pengembangan modal manusia, reformasi kelembagaan, ketahanan iklim, dan ekosistem inovasi tidak dapat dibangun dalam semalam. Kepemimpinan yang kuat membutuhkan keberanian untuk berpikir melampaui siklus politik yang ada,” kata dia.

Dalam pidatonya, SBY juga turut menyoroti pentingnya kepemimpinan yang inklusif. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang hanya dinikmati kelompok tertentu pada akhirnya akan memicu ketidakstabilan sosial dan politik.

“Pertumbuhan yang hanya menguntungkan sebagian kecil masyarakat pada akhirnya akan menghasilkan ketidakstabilan. Masyarakat yang berkelanjutan adalah masyarakat di mana orang merasa dilibatkan dalam kemajuan dan terhubung dengan peluang,” ujarnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah