Purbaya soal IHSG Ambruk: Kendalanya Persepsi Negatif, Ekonomi Tumbuh Bagus

Katadata/Fauza Syahputra
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Penulis: Ade Rosman
Editor: Agustiyanti
6/6/2026, 14.18 WIB

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyebut sentimen negatif terhadap perekonomian Indonesia menjadi penyebab Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ambruk.  Anggapan itu tidak sesuai dengan kondisi perekonomian yang dinlai dalam kondisi baik. 

"Kendala utama adalah persepsi negatif terhadap ekonomi kita, yang enggak terlalu benar karena APBN kita bagus, ekonominya tumbuh cukup bagus sampai sekarang kalau kita kemana-mana semuanya economic activity meningkat,” kata Purbaya kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Sabtu (6/6).

Bendahara negara ini mengatakan, munculnya narasi yang menyebut ekonomi Indonesia akan hancur berakibat pada tingkat kepercayaan investor menyusut. Karena itu, ia kini tengah berkolaborasi dengan Bank Indonesia (BI) untuk mengatasinya, sekaligus dalam menjaga nilai tukar rupiah.

“Itu (persepsi negatif) yang akan kita hilangkan dengan kerja sama yang lebih erat dengan Bank Sentral. Sebelumnya juga sudah erat, cuman kita lebih eratin lagi,” kata Purbaya.

IHSG ditutup anjlok 4,2% atau 245,01 poin ke Rp 5.594 pada penutupan perdagangan pekan ini, Jumat (5/6). Dalam sepekan, IHSG sudah longsor 9,69% dan anjlok 35,30% sejak awal tahun atau year to date (ytd).

Merujuk data perdagangan Bursa Efek Indonesia, volume transaksi perdagangan sepanjang hari ini mencapai 37,04 miliar saham dan frekuensi sebanyak 2,18 juta kali. Kapitalisasi pasar tercatat mencapai Rp 9.828 triliun dengan total nilai transaksi sebesar Rp 31,13 triliun.

Sebanyak 108 saham menguat, 626 saham terkoreksi dan 81 saham tidak bergerak. Seluruh sektor yang ada di BEI ditutup di zona merah. Saham perbankan jumbo ikut babak belur kala indeks longsor selama tiga hari berturut-turut pekan ini.

Di sisi lain, nilai tukar rupiah semakin melemah hingga menembus 18.000 per dolar AS pada perdagangan pekan ini, level terlemah sepanjang sejarah.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ade Rosman